Baca Saja, Tentu Ini Realita

mencari hidupAda beberapa orang  yang berjejer berpasang-pasang, ada sepasang yang bercinta, ada sepasang yang membaca media masa, dan ada sepasang yang hanya onjlok bercengkerama seraya memperhatikan sepasang orang yang bercinta. Ada bapak-bapak yang  mulai rambutnya beruban sedang menegak minuman bersoda entah Vodca. Taman yang ramai, dekat terminal yang ramai.

Ibu muda menggendong anaknya, air mata berenang di matanya menyusuri pipinya yang memerah. Anaknya menangis, menagih air putih pelepas lapar dan dahaga. Panas siang hari yang menyengat di Terminal Kota, mengiris keringat di tengah luka dan harapan dalam penantian. Ibu muda dan anak yang malang  terduduk dalam bis meninggalkan kota tempat kesakitan yang melanda.

Pekerja buruh berbondong keluar dari pabrik garmen, jam kerja berakhir seperti biasanya. Ada yang tertawa dengan para teman sepekerjaan, menceritakan pengalaman jenaka yang terjadi disiang tadi ketika bekerja. Ada yang asik sendiri dengan telepon genggamnya walau tak tahu apa yang dilakukan dengan  telepon genggamnya itu. Pria muda, petugas kebersihan di pabrik mengendarai sepedahnya dengan kencang, rasa was-was,dan dag dig dug menyelimuti hatinya. Dapat kabar istri yang dicintai sedang terkapar di meja operasi.  Entah apa penyebab yang mengharuskan sang istri  masuk ke  ruang operasi . mungkin terjatuh dari tangga rumah susun, atau bisa saja tertabrak mikrolet saat hendak menyebrang.  Sepeda dikayuh sekencang-kencangnya, air mata jatuh tak tertahan.

Di luar tampak gagah, tersembunyi kelayuan antara sikap dan nalar.

Keropos di dalam namun tertanam kekuatan akan harapan.

Embus dalam kekosongan, berisi ketakutan akan naluri yang tak diinginkan

Rongga yang mampat, rongga yang berjeruji, rongga yang matang, rongga yang terhalang.

Satu mata, satu hati, yang terhalang adalah mata hati.

 

Sisi dari dua keping koin yang terbalik berbeda.

Keping kotoran yang tak terduga

Keping emas yang ditaruh dalam sangkar keruh.

Bukan aku, bukan kamu, bukan anda, bukan kalian,

bukan kami, bukan itu, bukan ini, bukan tentang siapa, tapi tentang apa.

Apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi.

 DSC_0035

Masih tentang balada, kerap selalu ada, dan memang harus ada. Pertanda Tuhan nyata dengan pertanyaan keberadaannya.

Iklan

Tulisan Hitam, Saksi Kematian Tanpa Kehendak Tuhan

senjaDi bangunan tinggi bekas gedung perkantoran,yang  terbengkalai karena efek dari krisis ekonomi, dari perpecahan etnis, dari konflik beratasnamakan agama, dan dari perang atas nama kemerdekaan dan kebebasan. Tak tampak lagi warna cat pada dinding yang hampir semua retak, tak utuh lagi tembok yang menjadi sekat, retak hampir di seluruh dinding bangunan yang terabaikan. Pagi ini yang mati seorang gelandangan tua pengumpul botol minuman, mati terkapar dalam kardus yang biasa digunakan sebagai selimut, mati terkena disentri, malaria, dan dehidrasi. Para penghuni gedung yang mayoritas, gelandangan, pengemis, dan bocah pengamen tak begitu kaget melihat kematian yang tampak didapan matanya, selain keadaan seperti itu memang terbiasa, ditambah mereka malah mendoakan agar si gelandang tua lekas segera mati, bukan mereka kejam, justru iba rasa hati mereka melihat si gelandang tua yang renta, tiap malam meraung kesakitan, dan kelaparan. Apa boleh buat mereka tak bisa bantu, mereka juga sama susahnya mencari kesejahteraan.

Tak ada Tuhan ditempat ini, itu kata mereka. Dengan rasa derita, sakit bercampur bau busuk tak cukup lagi buat mereka untuk percaya tentang harapan apalagi Tuhan. Sebenarnya ada tempat yang lebih baik, dari pada gedung ini, tentunya lebih baik disini ibarat kotoran manusia dibanding kotoran sapi. Sama-sama kotoran namun lebih baik. Dan tempat yang lebih baik tersebut lumayan jauh, jaraknya kira-kira 68 KM kearah tenggara dengan jalan yang penuh ranjau juga duri.  Dan mayoritas penghuni disana para preman, pelacur, dan para manusia berkepala kotoran. jadi kalo dipikirkan ya sama saja buruknya. Maka begitulah mengapa mereka para pengemis, gelandangan, dan pengamen cilik masih berdiam diri di gedung seram ini.

Ini seperti akhir dari namanya dunia, terasa bahwa kehidupan berakhir dengan cara ini, seperti tanpa campur tangan Tuhan, bukan bencana senyatanya, bukan karena bumi terbelah, bukan karena gunung berhamburan,bukan karena  lautan membuncah, bahkan bukan karena matahari yang pecah dengan planet-planetnya. Hidup berakhir ditangan manusia, manusia yang berulah, manusia yang mati karena manusia, manusia yang mati dengan sendirinya. Gedung tua yang terabai, menjadi salah satu saksi dimana manusia punah secara tragis dengan hitamnya siang, gelapnya cahaya, kematian mengakar diantara udara yang dihirup manusia.

pembangunan

 Ada gambaran indah yang masih tersisa. Diantara  geletak mayat, tampak wanita paruh baya memeluk seorang anak dengan kasih dihiasi darah, yang tercampur dari kedua tubuh tak bernyawa tersebut.

 

Sakit Hatinya Pria Penguntai kata

Bagaikan lebah yang tiba-tiba hidup sendiri, menjalani tugas mencari sari bunga dalam kesepian.

merindukan kenangan

merindukan kenangan

Menjalani puasa amat begitu berat dihari ini, bukan berat karena menahan lapar, namun berat karna hati yang sedang ditimpa kegelisahan.  Itu derita pria penguntai kata, pria muda menjelang akhir dewasa.  9 tahun lamanya menggenggam cinta lalu kandas akhirnya.  wanita yang menurutnya mutiara dunia tega memutuskan kasih karna tersangkut prahara. “Oh, sang cinta, itu pilihan dia, namun keterpaksaan, dan kepasrahan yang aku punya”. suara hati bergelut dengan pikiran pria penguntai kata.

Aku ingin mencintaimu

Dengan sederhana

Dengan Kata yang tak sempat

Disampaikan kayu

kepada api yang menjadikanya abu (Sapardi Djoko Damono)

Lamanya waktu mengenal, mengiris historia kenangan, menjaja kepercayaan, kini hanya menjadi elektabilitas perasaan yang berkepanjangan. Meminang, mempersunting, menuai ikatan suci, apa itu yang dicari, apa itu yang menjadi akhir dari kisah ini. 9 tahun dalam gembalaan kereta kasih, kini ibarat terbuang dipetelantaraan. “oh, sang cinta , kutunggu matimu, kutunggu sisa-sa dari keperawananmu”.

dimana kau kini ratuku?

dimana kau kini ratuku?

Bagai lebah tertinggal asa, menantikan sang ratu hingga mata yang tak berhenti terpejam.

Kegelisahan yang melanda Suhu kami, sang penguntai kata, sang penulis muda.

mudah-mudahan diberi penggantinya. amiin.

Cerita Aking, Cerita Murka

Desiran angin meniupkan kenikmatan kedalam pembuluh darah, rasa lapar dan hausnya lidah menjadi perkara indah. Di saat momentum kesadaran berjalan menuju puncak vibrasi Tuhan.

“Apakah segalanya akan baik-baik saja? Siapa kini yang akan menjaganya? Bersabarlah kau nak, kini kau benar-benar sebatangkara”. Terucap kalimat dari satu mulut ke mulut yang lain, perihal kejadian yang terjadi di halaman mushola belakang terminal. Sesosok mayat tergeletak dengan sayatan di leher, dan simbahan darah yang masih mengalir dari perut mayat tersebut. “itu kang Murka!”, “iya, betul kang Murka”, “bang Murka dibunuh?”, “kasian si Aking”, “padahal si Murka kebal tusuk, eh ternyata matinya kena tusuk”, “rasain akhirnya kena ganjaran Tuhan tuh orang”, “inalillahi… semoga diampuni dosa-dosanya”. Beragam tanggapan orang-orang mengenai kejadian pagi itu, ada yang menunjukan simpati, ada yang merasa kasian, ada yang senang, adapula yang hanya penasaran dengan rasa biasa-biasa saja. Namun, dipinggir mushola seorang remaja meraung tersedu sedan atas kejadian itu. Bagai dunia runtuh, seperti kehilangan sesuatu yang abadi, jeritan tangis ketidak ikhlasan yang mendalam. Seraya menangis, remaja tersebut mengesot terseok-seok mendekati sang jenazah, kakinya yang hanya sampai lutut membuat dia seperti itu. Remaja itupun memeluk erat jenazah Murka, banjirnya darah tak menjadi katakutan dan halangan bagi Aking. Murka ibarat kakak kandungnya sendiri, Murka seperti seorang ayah baginya, Murka kadang menjadi teman yang setia, teman yang membuatnya tertawa dengan lawakan-lawakan lucu yang khas ala Murka. Namun kenyataan yang dihadapi hanya sesosok Murka yang terbujur kaku meregang nyawa, sesosok Murka yang dingin tak bergerak bersimbah darah. Aking meraung-raung layaknya serigala yang ditinggal sang alfa-nya. Baca lebih lanjut

Bocah Langit dan Anak Alam

Panas mentereng, matahari yang kepanasan akibat tingkah polah manusia. Tidak peduli dinginnya sang waktu yang memang enggan memperhatikan sekitar jagat maupun Andromeda dan bima sakti.

anak langit, hasil kehidupan

anak langit, hasil kehidupan

Disebuah pulau, di sebuah Negara, disuatu provinsi, dan di suatu desa. Panasnya cuaca tak menjadi soal perkara, maupun pikiran. Masyarakat desa tak terpengaruh, malah terbiasa beraktifitas dengan panasnya cuaca, dan panasnya hati karena kekurangan uang. Bocah-bocah terlihat berkumpul di kaki bukit, semuanya duduk melingkar, terkecuali salah seorang bocah yang sedang berorasi tentang bahaya global warming, dikontaminasikan dengan sedikit pemahaman tentang politik liberal kekinian. Oh alangkah indahnya pemandangan hasil cercahan ilmu sang Tuhan pada makhluknya. Baca lebih lanjut