Rindu Masa Muda

 

best friendKangen masa-masa kuliah dulu, rindu pada saat berkumpul bersama teman-teman. Karena saat itu saya terjerumus dengan berbagai aktifitas dan organisasi, yang alhasil lebih banyak ngaco daripada menuntut ilmunya. Beberapa periode pernah saya tinggal dan hidup di basecamp organisasi (lebih mirip kandang sih, soalnya dihuni oleh beberapa hewan.. haha) bersama kawan-kawan yang sekarang ini entah dimana keberadaan mereka. Istilah sekre yang biasa kami gunakan untuk menyebut bascamp yang kayak kandang itu, apalagi pernah ada kejadian dimana kami tidak memperoleh jaringan listrik,dan pernah diusir oleh yang punya tempat, karena kami disana ngontrak. Baca lebih lanjut

Iklan

Seringai Mengunjungi Lenggang

Haru di hari yang dingin menjelang pagi, keharuan tampak karena mimpi yang aneh penuh dengan hal kontemplatif. Aku lekas bangun bergegas ke kamar mandi, dan membuang kotoran seadanya. Ternyata para orang tua sudah beraktifitas di subuh hari begini, malu sebagai anak muda melihat para orang tua yang mestinya banyak istirahat, justru lebih giat dan rajin di banding anak-anak muda yang jauh dibawahnya. Dari kamar mandi aku masuk lagi ke kamar  tidurku untuk melanjutkan mengelana di ruang mimpi (tak tahu diri).

Terbangun dari mimpiku bagian ke- dua, bergetar ponsel ku diiringi nada suara khas yang memberitahukan ada sebuah pesan yang masuk. Dengan sigap aku mengambil ponsel, dan membaca isi pesannya. Ternyata pesan dari seorang kawan, memberitahukan bahwa sajakku di muat di sebuah koran. Aku pun bangun dari tempat tidurku, lekas membersihkan diri, kemudian pergi untuk membeli koran.

Ternyata benar, 3 puisiku dimuat di harian Pikiran Rakyat hari ini.

Seringai Dalam Waktumu

Seperti mendengar jejak langkahmu yang gemericik

Melangkah, seiring jatuhnya daun-daun

Layaknya perenungan yang turun dari langit

Dan dengan lambatnya rona yang memerah

Menyerap ke pori-pori mukamu yang pucat

Sunyi kalbu mendekap pada senyap

Esok pada senja kan ku dengar senandung layu

Menyusuri irama-irama yang berdentang

Selirih kekal siulanmu berdiam di benaku

Saat kau pejamkan wajah-wajah yang lelah

Bermekaran di bola matamu, bagai ngengat dimakan jejak

Selembut biasmu menyulam para hati

(di muat harian Pikiran Rakyat Minggu, 17 November 2013)

 

 

Menyirat Sebuah Angan 

 

Aku inginkan agar bulan berkaca

Diiringi bintang jatuh yang tergelincir kegirangan

Terdengar suara tiupan angin dan kesepian kosmos,

Bukankah itu lebih baik,

Bila tujuh puluh lima dosa dan ketakutan bersanding di peraduan malam

 

Aku ingin mengendarai kereta matahari ,

Ditemani air hujan dan kicaunya burung gereja.

Tersirat Angan-angan yang  hanyalah makna

Mengejar air mata menjadi lingkaran tak berprasangka

(di muat harian Pikiran Rakyat Minggu, 17 November 2013)

 

Mengunjungi Lenggang

Mengunjungi lenggang,

kulihat sebuah istana menggantung dilangit

di dinginnya fajar, kau merengek lagi

Embun belum turun

Matamu berkaca-kaca

Ada benarnya dalam hal yang sederhana,

Melesat jatuh atau hujan akan turun dengan rintik-rintik

Berawalan dengan matahari yang sembab

Jangan bicara mati

Karena kata-kata mesti dipikirkan

untuk sekian kalinya

Awan yang putih beradu dengan cahaya

Dan ampas pagi yang menyusut hingga lenyap

Memandang, seperti tatapan takdir yang akan berubah

Duduk di pelataran daun yang lebar

Di tepi sungai Mahakam

Mendatangi hening, semua serba lirih

Di subuh ini akan tampak berbeda
Walau Tuhan tetap tak tampak

Tapi aku tahu

jalannya memang berlaku

(di muat harian Pikiran Rakyat Minggu, 17 November 2013)

 

selamat menikmati hari minggu yang cerah dalam kemendungannya.

Kotemplasi Transenden di Antara Jalanan Yang Panjang

gamelanDalam perjalananku yang terasa panjang. Setitik keringat tercampur butir air mata, menghela nafas berdampingan dengan bibir yang mengucapkan  istighfar. Apapun ini yang terasa , seperti ampas membersihkan hati yang dekil, kotor berdebu. Allah sang maha pemberi ketenangan, apapun yang aku rasakan ini semoga menjadi penawar racun dalam batinku.

Perlakuanku, kebathilan yang aku perbuat tidak menjadikan kepuasan nafsuku. Kala sesal yang selalu akhirnya, kala cemas yang pada akhirnya. Kesemuan kembali semu antara semu dan semu. Kikislah ini ya Rabb, di ukirkanlah ke illahian pada hati ini yang selalu mencintai kesemuan.

Aku menyadari semesta ini semestaMu, disia-siakan lah kemahaan-Mu, menyia-nyiakan sejuta syair berkah dari-Mu. Nista kembali jadinya, akhirnya nista kembali jadinya. Rekatkan tekad ini ya Ghaffur, eratkan pikiran, akal, jiwa untuk menembus cahaya milik-Mu.debu

Semburat wajah takut, raut muka yang ketakutan, takut akan hilanngnya hal yang fana. Dunia ini terbatas, keinginan manusia yang tak terbatas, Kuasa Tuhan tanpa batas. Sadarkan ya Rahiim, ingatkan Ya Rahman. Buat aku merenung, bahwa aku tercipta dari sesuatu yang kecil dan amat hina. Buat aku merenung, bahwa aku terlahir ke dunia dengan telanjang, tak ada bekal yang menyertai. Buat aku merenung, ketika aku tak bisa berkata dan berbicara, hanya terbata-bata seakan begitu berat menyebut asma-Mu. Buat aku merenung, ketika aku hanya bisa merangkak, betapa sulitnya menggapai kebesaran-Mu.

Apa aku bisa kembali? Apa aku bisa kembali? Apa pernah aku menyadari? Tanpa-Mu aku adalah apa. Tanpa desiran firman-Mu aku hanya makhluk teraniaya.

Perjalananku yang terasa panjang, sekantung yang tadinya kekosongan. Serpih demi serpih, debu menjadi abu, semoga aku dibersihkan,diberikan selongsong yang bisa mengembuskan makna, yang memahami arti, mendalami tentang aku yang tak berdaya.

Ketika Merindukan Kentutmu

Teringat saat kamu kentut di depanku, terdengar pelan mendayu seiring kamu  menahan hembusannya. Apakah kamu di sana masih suka kentut wahai gadis pengentut? Pernah suatu ketika saat aku menikmati kata demi kata di perpustakaan kota, aku bertemu kamu tak sengaja, bukan sapaan bahkan salaman yang aku terima, kau malah melemparkan nyaring kentut pada wajahku. tak beraroma, namun membiaskan perasaan yang tak dapat kukira. Kira-kira kentutmu seperti apa kini. Apakah nyaring bergematar, atau mencuit layaknya ringkikan kuda? Semoga kamu dan kentutmu baik-baik saja. pertunjukan

Ketika aku kehilanganmu, yang paling aku sayangkan hanyalah kentutmu yang tak akan kudengar lagi. Kemana aku mencari kentutmu itu? Suatu saat pernah aku kentut dan aku merasakan kelembutan yang timbul seperti pertama aku mengenal kentutmu, namun semua berubah seketika saat muncul aroma ketiak tikus yang semerbak bersamaan kelembutan itu. Aku sedih dengan perasaan rindu menelisik  ingatanku. Bisakah kamu disana kirimkan kentutmu yang syahdu dan merona?

punggung

Rindu semakin memuncak, kesabaran pun rontok ditelan oleh pikiran tentang kamu dan kentutmu, harus kemana aku mencari pemuas dahaga akan kerinduan ini? Sudah kucari semua kentut didunia ini, tak ada yang seperti kentut kamu, sudah ku telusuri siang malam hanya untuk mencari nafas kentutmu. Yang kudapat hanya dedak bersama aroma racun mirip kabel yang terbakar lalu dijemur bersama jeroan kuda. Aku pasrah, aku lelah, walau kamu telah hilang, kuharap kentutmu tetap terbayang hingga aku bermimpi bertemu dengannya. Aku amat rindu kentutmu.