Sakit Hatinya Pria Penguntai kata

Bagaikan lebah yang tiba-tiba hidup sendiri, menjalani tugas mencari sari bunga dalam kesepian.

merindukan kenangan

merindukan kenangan

Menjalani puasa amat begitu berat dihari ini, bukan berat karena menahan lapar, namun berat karna hati yang sedang ditimpa kegelisahan.  Itu derita pria penguntai kata, pria muda menjelang akhir dewasa.  9 tahun lamanya menggenggam cinta lalu kandas akhirnya.  wanita yang menurutnya mutiara dunia tega memutuskan kasih karna tersangkut prahara. “Oh, sang cinta, itu pilihan dia, namun keterpaksaan, dan kepasrahan yang aku punya”. suara hati bergelut dengan pikiran pria penguntai kata.

Aku ingin mencintaimu

Dengan sederhana

Dengan Kata yang tak sempat

Disampaikan kayu

kepada api yang menjadikanya abu (Sapardi Djoko Damono)

Lamanya waktu mengenal, mengiris historia kenangan, menjaja kepercayaan, kini hanya menjadi elektabilitas perasaan yang berkepanjangan. Meminang, mempersunting, menuai ikatan suci, apa itu yang dicari, apa itu yang menjadi akhir dari kisah ini. 9 tahun dalam gembalaan kereta kasih, kini ibarat terbuang dipetelantaraan. “oh, sang cinta , kutunggu matimu, kutunggu sisa-sa dari keperawananmu”.

dimana kau kini ratuku?

dimana kau kini ratuku?

Bagai lebah tertinggal asa, menantikan sang ratu hingga mata yang tak berhenti terpejam.

Kegelisahan yang melanda Suhu kami, sang penguntai kata, sang penulis muda.

mudah-mudahan diberi penggantinya. amiin.

Iklan

Cerita Aking, Cerita Murka

Desiran angin meniupkan kenikmatan kedalam pembuluh darah, rasa lapar dan hausnya lidah menjadi perkara indah. Di saat momentum kesadaran berjalan menuju puncak vibrasi Tuhan.

“Apakah segalanya akan baik-baik saja? Siapa kini yang akan menjaganya? Bersabarlah kau nak, kini kau benar-benar sebatangkara”. Terucap kalimat dari satu mulut ke mulut yang lain, perihal kejadian yang terjadi di halaman mushola belakang terminal. Sesosok mayat tergeletak dengan sayatan di leher, dan simbahan darah yang masih mengalir dari perut mayat tersebut. “itu kang Murka!”, “iya, betul kang Murka”, “bang Murka dibunuh?”, “kasian si Aking”, “padahal si Murka kebal tusuk, eh ternyata matinya kena tusuk”, “rasain akhirnya kena ganjaran Tuhan tuh orang”, “inalillahi… semoga diampuni dosa-dosanya”. Beragam tanggapan orang-orang mengenai kejadian pagi itu, ada yang menunjukan simpati, ada yang merasa kasian, ada yang senang, adapula yang hanya penasaran dengan rasa biasa-biasa saja. Namun, dipinggir mushola seorang remaja meraung tersedu sedan atas kejadian itu. Bagai dunia runtuh, seperti kehilangan sesuatu yang abadi, jeritan tangis ketidak ikhlasan yang mendalam. Seraya menangis, remaja tersebut mengesot terseok-seok mendekati sang jenazah, kakinya yang hanya sampai lutut membuat dia seperti itu. Remaja itupun memeluk erat jenazah Murka, banjirnya darah tak menjadi katakutan dan halangan bagi Aking. Murka ibarat kakak kandungnya sendiri, Murka seperti seorang ayah baginya, Murka kadang menjadi teman yang setia, teman yang membuatnya tertawa dengan lawakan-lawakan lucu yang khas ala Murka. Namun kenyataan yang dihadapi hanya sesosok Murka yang terbujur kaku meregang nyawa, sesosok Murka yang dingin tak bergerak bersimbah darah. Aking meraung-raung layaknya serigala yang ditinggal sang alfa-nya. Baca lebih lanjut

Ramadhan Diantara Kronologi Situasi

Setelah beberapa lama aku meninggalkan gubuk tercinta yang bernama Bulan Berkaca, dengan pelbagai alasanpun aku menelantarkan Rumah Tulisanku, maaf Bulan Berkaca, maaf telah melupakanmu, ijinkan aku untuk menempatimu kembali.

Senja di Pasopati

Senja di Pasopati

Sepucuk surat dibacanya, surat yang berisi pengutaraan sang ibu yang merindukan anaknya juga tentang kerasnya hidup di negeri orang, menjalankan kewajiban pengganti suami mencari nafkah menjadi tenaga kerja. Perempuan kecil itu pun menitikan air mata, membaca isi surat sang ibu, menerawang apa yang dirasakan dan perihnya hidup perempuan suci yang melahirkannya. Adzan pun berkumandang menghembuskan kebesaran sang Rabbi, menyentuh hati bagi orang yang beriman untuk mejalani titah yang suci. Perempuan kecil kini bergumam “Allahuma lakasumtu….” dengan hela nafas bersamaan perihnya air mata. Baca lebih lanjut