Cerita Aking, Cerita Murka

Desiran angin meniupkan kenikmatan kedalam pembuluh darah, rasa lapar dan hausnya lidah menjadi perkara indah. Di saat momentum kesadaran berjalan menuju puncak vibrasi Tuhan.

“Apakah segalanya akan baik-baik saja? Siapa kini yang akan menjaganya? Bersabarlah kau nak, kini kau benar-benar sebatangkara”. Terucap kalimat dari satu mulut ke mulut yang lain, perihal kejadian yang terjadi di halaman mushola belakang terminal. Sesosok mayat tergeletak dengan sayatan di leher, dan simbahan darah yang masih mengalir dari perut mayat tersebut. “itu kang Murka!”, “iya, betul kang Murka”, “bang Murka dibunuh?”, “kasian si Aking”, “padahal si Murka kebal tusuk, eh ternyata matinya kena tusuk”, “rasain akhirnya kena ganjaran Tuhan tuh orang”, “inalillahi… semoga diampuni dosa-dosanya”. Beragam tanggapan orang-orang mengenai kejadian pagi itu, ada yang menunjukan simpati, ada yang merasa kasian, ada yang senang, adapula yang hanya penasaran dengan rasa biasa-biasa saja. Namun, dipinggir mushola seorang remaja meraung tersedu sedan atas kejadian itu. Bagai dunia runtuh, seperti kehilangan sesuatu yang abadi, jeritan tangis ketidak ikhlasan yang mendalam. Seraya menangis, remaja tersebut mengesot terseok-seok mendekati sang jenazah, kakinya yang hanya sampai lutut membuat dia seperti itu. Remaja itupun memeluk erat jenazah Murka, banjirnya darah tak menjadi katakutan dan halangan bagi Aking. Murka ibarat kakak kandungnya sendiri, Murka seperti seorang ayah baginya, Murka kadang menjadi teman yang setia, teman yang membuatnya tertawa dengan lawakan-lawakan lucu yang khas ala Murka. Namun kenyataan yang dihadapi hanya sesosok Murka yang terbujur kaku meregang nyawa, sesosok Murka yang dingin tak bergerak bersimbah darah. Aking meraung-raung layaknya serigala yang ditinggal sang alfa-nya. Baca lebih lanjut

Iklan

Rok Mini : Antara Sakit Hati dan Seni Memasak yang Berujung Kebahagiaan

Rok Mini, kepanjangan dari Rok Mini Lestari, gadis desa yang ditinggal suaminya merantau ke kota. Ini tahun keenamnya didalam kesepian. Sudah tak ingat lagi kapan terakhir kali suaminya memberikan kabar. Seingatnya kabar terakhir  yang ia dapat dari suaminya adalah sebuah email (konon katanya jaman rok mini hidup belum ada computer) berisikan pesan bahwa sang suami kini memiliki KTP dengan status perkawinan belum kawin. Dan mengatakan bahwa dia akan pulang kalo hujan nanti turunnya kelapa parut bukan air. Rok Mini saat itu belum mengerti pesan dari suaminya, karena memang Rok Mini kala itu terjangkit penyakit buta huruf. Setelah sekarang, setelah Rok Mini melek huruf, sesudah ia menghabiskan sebelas tahun di IMF (Indonesia membaca federation)  ia mengerti akan pesan terakhir suaminya, kalau ternyata suaminya tak akan kembali, suaminya telah menceraikan Rok Mini. Sedih hatinya, berkaca-kaca matanya. Mengingat ia sangat rindu suaminya, mengingat ia sangat menunggu sosok ayah dari anak-anaknya, dan mengingat kalau ternyata dirinya memang belum punya anak. Baca lebih lanjut

Menuju Generasi Anti Korupsi

jepretanku, bandung di siang hari

“Sebenarnya tak terpikirkan malahan kebanyakan orang pun pasti mengatakan hal yang sama”. Pernyataan tersebut adalah tanggapan yang mungkin terjadi jika ada seseorang yang bertanya tentang apakah pernah kamu berandai-andai untuk jadi ketua di sebuah lembaga korupsi di Negara yang sering kebanjiran korupsi? Memang agak kurang popular di masyarakat ini untuk memimpikan dirinya menjadi sebuah pimpinan di instansi yang bergerak di bidang pencegahan dan pemberantasan korupsi. Di sebuah Negara yang sudah terbiasa masyarakatnya melihat dan menyaksikan para pejabat, para penguasanya melakukan tindakan korupsi. Sungguh posisi yang rawan untuk menjadi seorang pemimpin lembaga korupsi di wilayah yang gersang akan kejujuran.

Semakin tinggi kita berpijak semakin kuat angin yang berhembus, semakin tinggi kita bergerak dalam perubahan, semakin besar pula badai yang menerjang. Besar kendala yang dihadapi menjadi pemimpin di sebuah negara yang dalam berbagai segi pembangunan banyak terjadi permasalahan. apalagi permasalahan tersebut ada kaitannya dengan hal yang dinamakan materi, dana, uang atau duit. Karena segala cara yang dilakukan oleh para kaum anti korupsi untuk  membasmi korupsi, pasti akan dihalang-halangi pula oleh oknum pecinta korupsi dengan berbagai cara, malah lebih nekat den ekstrim cara yang dilakukan.

Maka tak heran jika spesifikasi menjadi seorang pemimpin lembaga pemberantasan korupsi harus benar-benar ideal. Moral yang kuat, kejujuran yang tinggi, keberanian yang besar, keilmuan yang cerdas, dan harus siap untuk berani mati dalam pengabdiannya untuk memberantas korupsi. Berdoa saja semoga apa yang diharapkan segera tercapai, menjadi masyarakat  yang terbebas dari korupsi akan terwujud di kemudian hari.

 

Sudah Jadi Kepompong Hasilnya Cacing Buruk Rupa

betapa malangnya nasib Jarum seorang petani muda yang hidupnya sendiri, menyendiri dari semua keadaan yang ada. menyendiri karena pilihannya hanya untuk sendiri. tak ada yang mau berteman dengan dia, tak ada orang tua atau sanak family lainnya. benar-benar hidup sendiri, yang ia punyai hanya sekotak kecil sawah dan gubuk derita tempat dia tinggal. karena itu setiap malam, setelah ia beraktifitas dalam kesendiriannya. Jarum sering merenung, berkontemplasi antara dirinya dengan hatinya dan dengan Tuhannya. ia tak mau hidup sendiri, ia tak mau jadi petani miskin. ia menginginkan untuk keluar dari zona penderitaan.

sehari didalam gubuk kecilnya Jarum beribadah kepada Tuhannya, satu minggu ia semakin khusuyuk dalam peribadatannya. berbulan-bulan ia berpuasa dan tafakur meminta keridhaan dari sang maha Kuasa. Baca lebih lanjut

Ini Tentang yang Dinamakan Perubahan

Gambar

Hidup itu kadang adalah kata.. hanya sebatas untaian dari semua jumlah huruf..

Hanya huruf itu-hanya huruf itu, senantiasa hanya bertemu huruf itu-itu saja.

Karena hidup itu kadang adalah kata, menjadi kesusahan untuk berucap selain daripada untaian huruf. Terbiasa dengan huruf dan tak kepikiran dengan yang lain lainnya diluar dengan huruf.

Merenung bila hidup terus menjadi kata, akan sadar, akan berpikir kalau hidup itu bukan huruf-huruf, mencoba untuk keluar dari paradigma bahwa dunia itu bakan dari huruf, bukan sekedar kata-kata.

Jika kehidupan itu korek api, takdir ditentukan oleh batang-batang nasib,

Karna kehidupan itu korek api, proses dari batang-batang nasib untuk menuai api tujuan mencari sebuah akhir.

Memang kehidupan itu korek api, ada batang korek yang menyala, ada batang korek yang patah namun bisa menyala, ada batang korek yang benar-benar bisa menyala.

Merenung bila kehidupan itu korek api, hasil akhir dari nasib yaitu takdir yang ditentukan batang-batang korek untuk menyala dan akhirnya padam, atau batang-batang yang  sama sekali tak bisa menyala dan seterusnya padam Baca lebih lanjut