Pahlawan Kemana dan Ada di Mana?

nasionalismeAku mengucapkan terimakasih kepada para pejuang bangsa, para manusia pembela tanah tumpah darah indonesiaku ini. Dengan perjuangan, semangat, dan pengorbanan yang tak terkira. Dari darah hingga nyawa yang kau berikan untuk negeri yang tercinta. Tidak menyerah, dan tak putus asa walau dengan tombak kayu, ataupun bambu. Tak gentar menyerang lawan, merebut kebebasan hakiki dari penjarah ,penjajah kemerdekaan.

Apakah sekarang ini kata pahlawan masih berlaku? Apakah Ironman, Batman, atau Jokowi yang kini bisa disebut pahlawan? Siapa yang sekarang ini bisa disebut pahlawan selain ayah dan ibumu? Apakah mereka yang tinggal di jln. Jendral Gatot Subroto Jakarta Pusat itu pahlawan? Ataukah pahlawan itu yang berada di Istana Merdeka?atau jangan-jangan kamu yang sekarang sedang membaca itu pahlawan jaman sekarang? Jadi apakah pahlawan di jaman sekarang masih berlaku? Atau masih ada?

Di tiap-tiap hatimu yang bersih tersimpan sikap pahlawan, di dalam kekuranganmu ada sedikitnya sifat pahlawan. Di masyarakat yang penuh kriminal pun ada satu atau dua orang yang berjiwa pahlawan. Diantara puluhan koruptor yang terkait hambalang, pasti di pikirannya tahu apa itu pahlawan. Apakah pahlawan itu ada? Ada, namun apakah tampak ke permukaan sang pahlawan itu? mungkin. Jelas kamu adalah pahlawan dengan apa yang kamu perjuangkan, kalian memang pahlawan untuk dirinya sendiri, orang tuamu pahlawan untuk rumah tangganya sendiri. Pak Presiden pahlawan untuk pendukung, dan pengagumnya sendiri, Pak Jokowi pahlawan untuk masyarakat yang mencintai Pak Jokowi dan blusukannya. Dan aku pahlawan dengan caraku sendiri. Setiap diri manusia punya karakter kepahlawanan,namun  yang menjadi persoalan, apakah sikap dan sifat kepahlawanan itu bisa tumbuh melalui hiruk pikuk dunia yang kini penuh dengan dosa?entahlah. Mungkin  kepribadian pahlawan itu seperti hidayah, tak sembarang orang yang  bisa memunculkan kepahlawananan untuk bangsanya.nasionalisme

Pejuang masa lampau atau pahlawan bila kita menyebutnya sekarang, mempunyai peranan yang terbilang sangat besar bagi perjuangan melawan penjajah. Ada Bung Tomo sang pejuang muda yang mempelopori para TKR dan pemuda untuk melawan pasukan Belanda yang di boncengi Inggris di Surabaya. Ada KH Zaenal Mustofa di Tasikmalaya, berjuang dengan santri-santrinya untuk melawan penindasan dan penjajahan pada saat pendudukan Jepang. Ada Pattimura pahlawan dari maluku, memimpin rakyat Maluku untuk mengangkat senjata melawan VOC Belanda yang busuk karena Monopoli Politik dan perdagangannya. Ada Cut Nyak Dhien pejuang perempuan dari Aceh, melawan penjajah belanda pada perang Aceh, hingga pada akhirnya beliau harus kehilangan suaminya yang gugur di medan perang. Juga beliau harus merasakan pula diasingkan ke Sumedang oleh pihak belanda karena peran pentingnya bagi perjuangan masyarakat aceh. Dan masih banyak nama pahlawan lainnya lagi yang cukup membakar rasa nasionalisme di jiwa kita. Semangat heroik mereka bisa dirasakan hingga kini dengan kemerdekaan yang sekarang masih kita alami.

 Jaga negeri ini, harumkan bangsa ini dengan kebaikan-kebaikan dan prestasi yang mengagumkan, sebagai tanda kita meneruskan perjuangan para pahlawan masa lampau, juga untuk menyiratkan bahwa kita sebagai anak bangsa layak diberi gelar pahlawan juga. Selamat Hari Pahlawan

Sumpah Sakral dan Sumpah Serapah

sumpah pemudaBerbahagialah mereka para yang muda di tahun 1928 pada tanggal 28 Oktober khususnya yang berpartisipasi dalam kongsres Sumpah Pemuda di Waltervreden (sekarang Jakarta), semoga dalam kesejahteraan di alam sana. Semoga berbahagialah pula muda-mudi yang hari ini sedang nge-blog, juga sejahtera para muda-mudi yang sedang berjuang dengan kehidupannya, dengan pendidikannya, dengan karirnya, dengan kisah cintanya.
Pasti semua tahu dengan Sumpah pemuda,  sebuah sumpah yang menjadi  tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Sebuah ikrar cita-cita yang didasari semangat para benih bangsa sebagai  titik awal berdirinya negara Indonesia. Semua perwakilan pemuda berjuang dan berdiri bersama dalam sebuah kongres yang sejatinya mencerminkan sebuah persatuan, mengikis perbedaan, dan menanam rasa persaudaraan.
Kini di bulan oktober 2013, apakah masih ada refleksi dari perjuangan pemuda/I di tahun 1928?
Apakah di tahun sekarang para generasi muda masih berjuang bersama untuk kemajuan dan kemuliaan bangsa?
Semoga masih ada yang tersisa dari pengorbanan,dan dari keringat para peserta kongres 28 oktober 1928. Dimana sumpah yang begitu sakral berbuah menjadi keyakinan berbangsa dan bernegara ditengah penindasan dan raga yang terjajah.
Sumpah serapah yang mungkin kini kita dengar dari yang muda-mudi lontarkan, sumpah dari kehawatiran meraka secara individual, serapah dari sifat hedonis ditengah kemajuan jaman. Sumpah  karena kegetiran yang di sebabkan perilaku korup yang diajarkan para kaum tua yang dulunya pernah muda. Serapah karena melihat dunia keji dengan melihat perceraian orang tua yang tentunya juga pernah muda.

Cerita Aking, Cerita Murka

Desiran angin meniupkan kenikmatan kedalam pembuluh darah, rasa lapar dan hausnya lidah menjadi perkara indah. Di saat momentum kesadaran berjalan menuju puncak vibrasi Tuhan.

“Apakah segalanya akan baik-baik saja? Siapa kini yang akan menjaganya? Bersabarlah kau nak, kini kau benar-benar sebatangkara”. Terucap kalimat dari satu mulut ke mulut yang lain, perihal kejadian yang terjadi di halaman mushola belakang terminal. Sesosok mayat tergeletak dengan sayatan di leher, dan simbahan darah yang masih mengalir dari perut mayat tersebut. “itu kang Murka!”, “iya, betul kang Murka”, “bang Murka dibunuh?”, “kasian si Aking”, “padahal si Murka kebal tusuk, eh ternyata matinya kena tusuk”, “rasain akhirnya kena ganjaran Tuhan tuh orang”, “inalillahi… semoga diampuni dosa-dosanya”. Beragam tanggapan orang-orang mengenai kejadian pagi itu, ada yang menunjukan simpati, ada yang merasa kasian, ada yang senang, adapula yang hanya penasaran dengan rasa biasa-biasa saja. Namun, dipinggir mushola seorang remaja meraung tersedu sedan atas kejadian itu. Bagai dunia runtuh, seperti kehilangan sesuatu yang abadi, jeritan tangis ketidak ikhlasan yang mendalam. Seraya menangis, remaja tersebut mengesot terseok-seok mendekati sang jenazah, kakinya yang hanya sampai lutut membuat dia seperti itu. Remaja itupun memeluk erat jenazah Murka, banjirnya darah tak menjadi katakutan dan halangan bagi Aking. Murka ibarat kakak kandungnya sendiri, Murka seperti seorang ayah baginya, Murka kadang menjadi teman yang setia, teman yang membuatnya tertawa dengan lawakan-lawakan lucu yang khas ala Murka. Namun kenyataan yang dihadapi hanya sesosok Murka yang terbujur kaku meregang nyawa, sesosok Murka yang dingin tak bergerak bersimbah darah. Aking meraung-raung layaknya serigala yang ditinggal sang alfa-nya. Baca lebih lanjut

Pahlawan oh Pahlawan Kesiangan

aku rasa Superman itu adalah nama pahlawan, begitu juga Spiderman, ironman, Hulk, Naruto, Shongoku, Hercules, Perseus, dan banyak lagi yang tak bisa ku sebutkan satu persatu. mereka adalah pahlawan, pahlawan super dalam dunia khayalan, pahlawan super yang telah menjadi dongeng dalam tidur anak-anaknya. tapi memang benar mereka itu pahlawan, pahlawan bagi orang-orang yang mengaguminya.

lantas bagaimana dengan Ir. Sokarno, Moh Hatta, Ahmad subardjo, Jendral Ahmad yani, Piere Tandean, KH Zaenal Mustofa, KH Ahmad Dahlan, Cokroaminoto, Pattimura, Diponegoro, Cut Nyak Dien, Kh Agus Salim, Arif Raman Hakim dan banyak lagi yang lagi-lagi tak bisa ku sebutkan satu persatu. siapa mereka, apakah mereka pahlawan juga? apakah Baca lebih lanjut