Tanpa Sesuatu Koma Terdiam

Di antara pagi dan petang tumbuh bunga yang kelu, memperlihatkan bahwa adanya peristiwa dalam sebuah cerita yang sarat makna

WORLD MIME DAY 2011 "A Tribute to Marcel Marceau from Bandung" Indonesia

WORLD MIME DAY 2011 “A Tribute to Marcel Marceau from Bandung” Indonesia

Titik          :Sampai kapan kau mau berdiam saja, bukankah sekarang adalah hari dimana kau akan menyudahi puasa bicaramu itu?

Koma       : (menatap, mengangguk, menggeleng, dan membuang muka)

Titik          :kewarasanmu sudah dipertanyakan orang-orang. Maumu apa, kau memulai semua itu hanya karena sebuah kematian?

Koma       : (mengangguk, lantas berdiri, menggeleng, kemudian duduk jongkok membelakangi titik )

Titik          : Lantas ibumu yang mati menghendaki aksimu ini? Dia sudah mati, sudah dikubur, sudah jadi tulang. Tak membuat ibumu hidup dengan apa yang kau lakukan.

Koma       : (melihat wajah titik, matanya berkaca, menangis tak bersuara)

Titik          : Satu hari aku maklumi, satu minggu aku pahami, satu bulan aku terheran-heran, dua bulan aku geram hingga bertanya kenapa kau melakukan itu. jika sikapmu itu sebagai rasa hati terluka dan berduka kenapa harus berlarut-larut hingga berbulan-bulan lamanya. Jawabanmu masih hanya anggukan, dan gelengan kepala.

Titik          : Persetan denganmu, aku sudah tak mau mengurusmu! (mengambil tas pakaian, bergegas dia berjalan, akhirnya pergi)

Koma       : (memandangi pintu, memandangi pas foto yang berisi kengangan titik, dia, dan ibunya. Menangis tersedu sedan tanpa suara)

WORLD MIME DAY 2011 "Walking Slow Action Mime" Indonesia

WORLD MIME DAY 2011 “Walking Slow Action Mime” Indonesia

Waktu seakan berputar, padahal semuanya membeku. Berdiam di dalam tempatnya, tak bergerak, tak tersentuh. Tak akan datang pagi, tak ada waktu petang dan senja. Hanya itu, suatu pengalaman supra-empiris. Ketika tubuh bercengkrama dengan roh, ketika jiwa bersenggama dengan pikiran.

 

Koma       : (dalam diamnya) aku hanya ingin terdiam dan berdiam di antara kebisingan dunia. Aku hanya ingin tertidur tanpa alsan seperti aku yang diam tanpa sesuatu apapun. (tertidur di pembaringannya, memejam, menitikan air mata)

Baca Saja, Tentu Ini Realita

mencari hidupAda beberapa orang  yang berjejer berpasang-pasang, ada sepasang yang bercinta, ada sepasang yang membaca media masa, dan ada sepasang yang hanya onjlok bercengkerama seraya memperhatikan sepasang orang yang bercinta. Ada bapak-bapak yang  mulai rambutnya beruban sedang menegak minuman bersoda entah Vodca. Taman yang ramai, dekat terminal yang ramai.

Ibu muda menggendong anaknya, air mata berenang di matanya menyusuri pipinya yang memerah. Anaknya menangis, menagih air putih pelepas lapar dan dahaga. Panas siang hari yang menyengat di Terminal Kota, mengiris keringat di tengah luka dan harapan dalam penantian. Ibu muda dan anak yang malang  terduduk dalam bis meninggalkan kota tempat kesakitan yang melanda.

Pekerja buruh berbondong keluar dari pabrik garmen, jam kerja berakhir seperti biasanya. Ada yang tertawa dengan para teman sepekerjaan, menceritakan pengalaman jenaka yang terjadi disiang tadi ketika bekerja. Ada yang asik sendiri dengan telepon genggamnya walau tak tahu apa yang dilakukan dengan  telepon genggamnya itu. Pria muda, petugas kebersihan di pabrik mengendarai sepedahnya dengan kencang, rasa was-was,dan dag dig dug menyelimuti hatinya. Dapat kabar istri yang dicintai sedang terkapar di meja operasi.  Entah apa penyebab yang mengharuskan sang istri  masuk ke  ruang operasi . mungkin terjatuh dari tangga rumah susun, atau bisa saja tertabrak mikrolet saat hendak menyebrang.  Sepeda dikayuh sekencang-kencangnya, air mata jatuh tak tertahan.

Di luar tampak gagah, tersembunyi kelayuan antara sikap dan nalar.

Keropos di dalam namun tertanam kekuatan akan harapan.

Embus dalam kekosongan, berisi ketakutan akan naluri yang tak diinginkan

Rongga yang mampat, rongga yang berjeruji, rongga yang matang, rongga yang terhalang.

Satu mata, satu hati, yang terhalang adalah mata hati.

 

Sisi dari dua keping koin yang terbalik berbeda.

Keping kotoran yang tak terduga

Keping emas yang ditaruh dalam sangkar keruh.

Bukan aku, bukan kamu, bukan anda, bukan kalian,

bukan kami, bukan itu, bukan ini, bukan tentang siapa, tapi tentang apa.

Apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi.

 DSC_0035

Masih tentang balada, kerap selalu ada, dan memang harus ada. Pertanda Tuhan nyata dengan pertanyaan keberadaannya.