Lagi-lagi Cinta Gila, Gila Cinta

teaterMana mungkin aku bisa meminangmu, aku hanya tamatan SMA. Bukankah di mata bapakmu pernikahan itu layaknya tes CPNS.

Mana mungkin aku menikahimu. Jangankan sedan mewah, motor butut ini saja belum lunas kreditnya. Bukankah bapakmu memilih menantu dilihat dari kuantitas kekayaan yang ia punya.

Mana mungkin aku mengawinimu. Kerja saja  tak punya dan tempat tinggal pun numpang di saudara. Bukankah  di mata bapakmu, orang yang menikahi anaknya setidaknya mempunyai 1 apartemen, 1 villa, dan profesi pekerjaan minimal perwira tentara.

Mana mungkin aku menjadi suamimu. Walau kita saling sayang dan mencinta, namun kelamin kita sama. Bukankah di mata bapakmu manusia diciptakan berbeda bangsa, suku, agama namun tetap satu jua.teater

Ah cinta gila, cinta gila. Lagi-lagi gila pada hakikat kesuciannya. Jangan memohon ampun, jangan menyesal pada akhirnya, karna semua pilihan terjadi pada awalnya. Hasil dan akhirnya tergantung nasib dan takdir yang kuasa.

Iklan

Sakit Hatinya Pria Penguntai kata

Bagaikan lebah yang tiba-tiba hidup sendiri, menjalani tugas mencari sari bunga dalam kesepian.

merindukan kenangan

merindukan kenangan

Menjalani puasa amat begitu berat dihari ini, bukan berat karena menahan lapar, namun berat karna hati yang sedang ditimpa kegelisahan.  Itu derita pria penguntai kata, pria muda menjelang akhir dewasa.  9 tahun lamanya menggenggam cinta lalu kandas akhirnya.  wanita yang menurutnya mutiara dunia tega memutuskan kasih karna tersangkut prahara. “Oh, sang cinta, itu pilihan dia, namun keterpaksaan, dan kepasrahan yang aku punya”. suara hati bergelut dengan pikiran pria penguntai kata.

Aku ingin mencintaimu

Dengan sederhana

Dengan Kata yang tak sempat

Disampaikan kayu

kepada api yang menjadikanya abu (Sapardi Djoko Damono)

Lamanya waktu mengenal, mengiris historia kenangan, menjaja kepercayaan, kini hanya menjadi elektabilitas perasaan yang berkepanjangan. Meminang, mempersunting, menuai ikatan suci, apa itu yang dicari, apa itu yang menjadi akhir dari kisah ini. 9 tahun dalam gembalaan kereta kasih, kini ibarat terbuang dipetelantaraan. “oh, sang cinta , kutunggu matimu, kutunggu sisa-sa dari keperawananmu”.

dimana kau kini ratuku?

dimana kau kini ratuku?

Bagai lebah tertinggal asa, menantikan sang ratu hingga mata yang tak berhenti terpejam.

Kegelisahan yang melanda Suhu kami, sang penguntai kata, sang penulis muda.

mudah-mudahan diberi penggantinya. amiin.

Cerita Aking, Cerita Murka

Desiran angin meniupkan kenikmatan kedalam pembuluh darah, rasa lapar dan hausnya lidah menjadi perkara indah. Di saat momentum kesadaran berjalan menuju puncak vibrasi Tuhan.

“Apakah segalanya akan baik-baik saja? Siapa kini yang akan menjaganya? Bersabarlah kau nak, kini kau benar-benar sebatangkara”. Terucap kalimat dari satu mulut ke mulut yang lain, perihal kejadian yang terjadi di halaman mushola belakang terminal. Sesosok mayat tergeletak dengan sayatan di leher, dan simbahan darah yang masih mengalir dari perut mayat tersebut. “itu kang Murka!”, “iya, betul kang Murka”, “bang Murka dibunuh?”, “kasian si Aking”, “padahal si Murka kebal tusuk, eh ternyata matinya kena tusuk”, “rasain akhirnya kena ganjaran Tuhan tuh orang”, “inalillahi… semoga diampuni dosa-dosanya”. Beragam tanggapan orang-orang mengenai kejadian pagi itu, ada yang menunjukan simpati, ada yang merasa kasian, ada yang senang, adapula yang hanya penasaran dengan rasa biasa-biasa saja. Namun, dipinggir mushola seorang remaja meraung tersedu sedan atas kejadian itu. Bagai dunia runtuh, seperti kehilangan sesuatu yang abadi, jeritan tangis ketidak ikhlasan yang mendalam. Seraya menangis, remaja tersebut mengesot terseok-seok mendekati sang jenazah, kakinya yang hanya sampai lutut membuat dia seperti itu. Remaja itupun memeluk erat jenazah Murka, banjirnya darah tak menjadi katakutan dan halangan bagi Aking. Murka ibarat kakak kandungnya sendiri, Murka seperti seorang ayah baginya, Murka kadang menjadi teman yang setia, teman yang membuatnya tertawa dengan lawakan-lawakan lucu yang khas ala Murka. Namun kenyataan yang dihadapi hanya sesosok Murka yang terbujur kaku meregang nyawa, sesosok Murka yang dingin tak bergerak bersimbah darah. Aking meraung-raung layaknya serigala yang ditinggal sang alfa-nya. Baca lebih lanjut

Salahkah Bila Aku Lesbi?

siapa yang ingin berbeda? siapa yang ingin menjadi pembeda, dan siapa yang ingin menjadi penyebab perbedaan? aku… apakah aku…? aku tak ingin berbeda, aku ingin normal layaknya orang-orang pada umumnya. apakah mereka  ada sedikit pemikiran saja bahwa sebenarnya kita ini sama. sama manusia, sama punya hati, sama punya perasaan, sama memiliki cinta, sama suka bercinta. hanya saja yang jadi pembeda hanya aku bercinta dengan jenis kelamin yang sama, dan mereka bercinta dengan jenis kelamin berbeda. tapi perlu di catat aku masih bercinta dengan sejenis, yaitu jenis manusia. dan kalian pun pasti sama bercinta dengan sesama jenis manusia. benarkan? atau jangan-jangan kalian bercinta dengan jenis yang berbeda? aku harap tidak. karena betapa beratnya kau jika bercinta dengan berbeda jenis, aku saja  selalu sakit dan menderita memiliki perasaan cinta pada sejenis tapi beda kelamin. apalagi kalo berbeda jenis semisal kau memiliki perasaan pada ayam atau kambing, pasti kau lebih jauh menderita dari diriku. Baca lebih lanjut

Dunia Kiamat Sebelum Waktunya

sudah lima hari Kotor tak mandi, sudah tiga hari Kotor tak makan, sudah dua hari Kotor tak mencuci baju, dan sudah kurang lebih dari sejam Kotor tak minum. Namanya Kotor, nama lengkapnya Kotor Kerna Ta’kucel. sudah sebulan lamanya dia berdiam diri, hidupnya yang teratur kini tak teratur, dirinya yang dulu periang kini malah jadi meriang. ada apa gerangan yang menimpa Kotor, seberapa besarkah masalah yang dia hadapi sehingga dia sampai tak mau mandi selama lima hari. kini badannya teramat kotor, sekotor namanya. Baca lebih lanjut