Konstelasi Pagi di Seberang Dermaga

dermaga

Menunggumu di dermaga tua, saat fajar mulai menyisir keberadaan pasir yang saling mengusik. Bukankah para nelayan itu bergegas pulang, sesegera ingin berselimut memeluk anak dan istri. dan Masih saja aku menunggumu seraya berbisik kepada angin. kutanya keberadaanmu pada angin, mungkin itu yang mengusik awan hingga terbangun entah itu dari tidurnya atau mungkin hanya sekedar lamunan.

 tambak

Jika saja kau mampu menangkap pesan yang disampaikan angin dan waktu, tak perlu lagi aku berdiam diri menunggu pagi bersama keheningan pantai barat ini. Induk burung pun tak mau meninggalkan sarangnya , masih terlelap bersama anak-anaknya. Hawa ini bukan sekedar panas bercampur tiris, namun ini merupakan  kerinduan dari pengharapan lelaki yang berharap.

pelabuhan

Berdiam lama disini, mengingatkan ku tentang masa lalu. hingar bingar kesenangan, beribu duka dan lara yang menyentuh. semua berpadu menjadi satu waktu. Saut paut antara tongkang yang satu dengan yang lain, memecah nostalgia kisah yang semu.

pantai

Bukankan ini membuang waktu? semakin waktu berlalu, kejemuan memperdaya hasrat untuk meninggalkan jasad, memperdaya pikiran untuk segera pergi jauh meninggalkan memori yang telah dilalui. lalu kapan aku bisa bertemu denganmu?

sunrise

Deburan ombak kini mengiringi kejenuhan, beberapa nelayan bersusah payah menarik perahunya ke pantai. Sudah waktunya mereka mencari ikan, ikan yang kemudian mereka tukar dengan butir nasi dan keperluan lainnya. Ini adalah pertanda untuk segera aku beranjak. Dilain hari, ditempat yang berbeda ku akan menunggumu lagi.

Iklan

Seringai Mengunjungi Lenggang

Haru di hari yang dingin menjelang pagi, keharuan tampak karena mimpi yang aneh penuh dengan hal kontemplatif. Aku lekas bangun bergegas ke kamar mandi, dan membuang kotoran seadanya. Ternyata para orang tua sudah beraktifitas di subuh hari begini, malu sebagai anak muda melihat para orang tua yang mestinya banyak istirahat, justru lebih giat dan rajin di banding anak-anak muda yang jauh dibawahnya. Dari kamar mandi aku masuk lagi ke kamar  tidurku untuk melanjutkan mengelana di ruang mimpi (tak tahu diri).

Terbangun dari mimpiku bagian ke- dua, bergetar ponsel ku diiringi nada suara khas yang memberitahukan ada sebuah pesan yang masuk. Dengan sigap aku mengambil ponsel, dan membaca isi pesannya. Ternyata pesan dari seorang kawan, memberitahukan bahwa sajakku di muat di sebuah koran. Aku pun bangun dari tempat tidurku, lekas membersihkan diri, kemudian pergi untuk membeli koran.

Ternyata benar, 3 puisiku dimuat di harian Pikiran Rakyat hari ini.

Seringai Dalam Waktumu

Seperti mendengar jejak langkahmu yang gemericik

Melangkah, seiring jatuhnya daun-daun

Layaknya perenungan yang turun dari langit

Dan dengan lambatnya rona yang memerah

Menyerap ke pori-pori mukamu yang pucat

Sunyi kalbu mendekap pada senyap

Esok pada senja kan ku dengar senandung layu

Menyusuri irama-irama yang berdentang

Selirih kekal siulanmu berdiam di benaku

Saat kau pejamkan wajah-wajah yang lelah

Bermekaran di bola matamu, bagai ngengat dimakan jejak

Selembut biasmu menyulam para hati

(di muat harian Pikiran Rakyat Minggu, 17 November 2013)

 

 

Menyirat Sebuah Angan 

 

Aku inginkan agar bulan berkaca

Diiringi bintang jatuh yang tergelincir kegirangan

Terdengar suara tiupan angin dan kesepian kosmos,

Bukankah itu lebih baik,

Bila tujuh puluh lima dosa dan ketakutan bersanding di peraduan malam

 

Aku ingin mengendarai kereta matahari ,

Ditemani air hujan dan kicaunya burung gereja.

Tersirat Angan-angan yang  hanyalah makna

Mengejar air mata menjadi lingkaran tak berprasangka

(di muat harian Pikiran Rakyat Minggu, 17 November 2013)

 

Mengunjungi Lenggang

Mengunjungi lenggang,

kulihat sebuah istana menggantung dilangit

di dinginnya fajar, kau merengek lagi

Embun belum turun

Matamu berkaca-kaca

Ada benarnya dalam hal yang sederhana,

Melesat jatuh atau hujan akan turun dengan rintik-rintik

Berawalan dengan matahari yang sembab

Jangan bicara mati

Karena kata-kata mesti dipikirkan

untuk sekian kalinya

Awan yang putih beradu dengan cahaya

Dan ampas pagi yang menyusut hingga lenyap

Memandang, seperti tatapan takdir yang akan berubah

Duduk di pelataran daun yang lebar

Di tepi sungai Mahakam

Mendatangi hening, semua serba lirih

Di subuh ini akan tampak berbeda
Walau Tuhan tetap tak tampak

Tapi aku tahu

jalannya memang berlaku

(di muat harian Pikiran Rakyat Minggu, 17 November 2013)

 

selamat menikmati hari minggu yang cerah dalam kemendungannya.

Lagi-lagi Cinta Gila, Gila Cinta

teaterMana mungkin aku bisa meminangmu, aku hanya tamatan SMA. Bukankah di mata bapakmu pernikahan itu layaknya tes CPNS.

Mana mungkin aku menikahimu. Jangankan sedan mewah, motor butut ini saja belum lunas kreditnya. Bukankah bapakmu memilih menantu dilihat dari kuantitas kekayaan yang ia punya.

Mana mungkin aku mengawinimu. Kerja saja  tak punya dan tempat tinggal pun numpang di saudara. Bukankah  di mata bapakmu, orang yang menikahi anaknya setidaknya mempunyai 1 apartemen, 1 villa, dan profesi pekerjaan minimal perwira tentara.

Mana mungkin aku menjadi suamimu. Walau kita saling sayang dan mencinta, namun kelamin kita sama. Bukankah di mata bapakmu manusia diciptakan berbeda bangsa, suku, agama namun tetap satu jua.teater

Ah cinta gila, cinta gila. Lagi-lagi gila pada hakikat kesuciannya. Jangan memohon ampun, jangan menyesal pada akhirnya, karna semua pilihan terjadi pada awalnya. Hasil dan akhirnya tergantung nasib dan takdir yang kuasa.

Kotemplasi Transenden di Antara Jalanan Yang Panjang

gamelanDalam perjalananku yang terasa panjang. Setitik keringat tercampur butir air mata, menghela nafas berdampingan dengan bibir yang mengucapkan  istighfar. Apapun ini yang terasa , seperti ampas membersihkan hati yang dekil, kotor berdebu. Allah sang maha pemberi ketenangan, apapun yang aku rasakan ini semoga menjadi penawar racun dalam batinku.

Perlakuanku, kebathilan yang aku perbuat tidak menjadikan kepuasan nafsuku. Kala sesal yang selalu akhirnya, kala cemas yang pada akhirnya. Kesemuan kembali semu antara semu dan semu. Kikislah ini ya Rabb, di ukirkanlah ke illahian pada hati ini yang selalu mencintai kesemuan.

Aku menyadari semesta ini semestaMu, disia-siakan lah kemahaan-Mu, menyia-nyiakan sejuta syair berkah dari-Mu. Nista kembali jadinya, akhirnya nista kembali jadinya. Rekatkan tekad ini ya Ghaffur, eratkan pikiran, akal, jiwa untuk menembus cahaya milik-Mu.debu

Semburat wajah takut, raut muka yang ketakutan, takut akan hilanngnya hal yang fana. Dunia ini terbatas, keinginan manusia yang tak terbatas, Kuasa Tuhan tanpa batas. Sadarkan ya Rahiim, ingatkan Ya Rahman. Buat aku merenung, bahwa aku tercipta dari sesuatu yang kecil dan amat hina. Buat aku merenung, bahwa aku terlahir ke dunia dengan telanjang, tak ada bekal yang menyertai. Buat aku merenung, ketika aku tak bisa berkata dan berbicara, hanya terbata-bata seakan begitu berat menyebut asma-Mu. Buat aku merenung, ketika aku hanya bisa merangkak, betapa sulitnya menggapai kebesaran-Mu.

Apa aku bisa kembali? Apa aku bisa kembali? Apa pernah aku menyadari? Tanpa-Mu aku adalah apa. Tanpa desiran firman-Mu aku hanya makhluk teraniaya.

Perjalananku yang terasa panjang, sekantung yang tadinya kekosongan. Serpih demi serpih, debu menjadi abu, semoga aku dibersihkan,diberikan selongsong yang bisa mengembuskan makna, yang memahami arti, mendalami tentang aku yang tak berdaya.

Baca Saja, Tentu Ini Realita

mencari hidupAda beberapa orang  yang berjejer berpasang-pasang, ada sepasang yang bercinta, ada sepasang yang membaca media masa, dan ada sepasang yang hanya onjlok bercengkerama seraya memperhatikan sepasang orang yang bercinta. Ada bapak-bapak yang  mulai rambutnya beruban sedang menegak minuman bersoda entah Vodca. Taman yang ramai, dekat terminal yang ramai.

Ibu muda menggendong anaknya, air mata berenang di matanya menyusuri pipinya yang memerah. Anaknya menangis, menagih air putih pelepas lapar dan dahaga. Panas siang hari yang menyengat di Terminal Kota, mengiris keringat di tengah luka dan harapan dalam penantian. Ibu muda dan anak yang malang  terduduk dalam bis meninggalkan kota tempat kesakitan yang melanda.

Pekerja buruh berbondong keluar dari pabrik garmen, jam kerja berakhir seperti biasanya. Ada yang tertawa dengan para teman sepekerjaan, menceritakan pengalaman jenaka yang terjadi disiang tadi ketika bekerja. Ada yang asik sendiri dengan telepon genggamnya walau tak tahu apa yang dilakukan dengan  telepon genggamnya itu. Pria muda, petugas kebersihan di pabrik mengendarai sepedahnya dengan kencang, rasa was-was,dan dag dig dug menyelimuti hatinya. Dapat kabar istri yang dicintai sedang terkapar di meja operasi.  Entah apa penyebab yang mengharuskan sang istri  masuk ke  ruang operasi . mungkin terjatuh dari tangga rumah susun, atau bisa saja tertabrak mikrolet saat hendak menyebrang.  Sepeda dikayuh sekencang-kencangnya, air mata jatuh tak tertahan.

Di luar tampak gagah, tersembunyi kelayuan antara sikap dan nalar.

Keropos di dalam namun tertanam kekuatan akan harapan.

Embus dalam kekosongan, berisi ketakutan akan naluri yang tak diinginkan

Rongga yang mampat, rongga yang berjeruji, rongga yang matang, rongga yang terhalang.

Satu mata, satu hati, yang terhalang adalah mata hati.

 

Sisi dari dua keping koin yang terbalik berbeda.

Keping kotoran yang tak terduga

Keping emas yang ditaruh dalam sangkar keruh.

Bukan aku, bukan kamu, bukan anda, bukan kalian,

bukan kami, bukan itu, bukan ini, bukan tentang siapa, tapi tentang apa.

Apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi.

 DSC_0035

Masih tentang balada, kerap selalu ada, dan memang harus ada. Pertanda Tuhan nyata dengan pertanyaan keberadaannya.