Ketika Merindukan Kentutmu

Teringat saat kamu kentut di depanku, terdengar pelan mendayu seiring kamu  menahan hembusannya. Apakah kamu di sana masih suka kentut wahai gadis pengentut? Pernah suatu ketika saat aku menikmati kata demi kata di perpustakaan kota, aku bertemu kamu tak sengaja, bukan sapaan bahkan salaman yang aku terima, kau malah melemparkan nyaring kentut pada wajahku. tak beraroma, namun membiaskan perasaan yang tak dapat kukira. Kira-kira kentutmu seperti apa kini. Apakah nyaring bergematar, atau mencuit layaknya ringkikan kuda? Semoga kamu dan kentutmu baik-baik saja. pertunjukan

Ketika aku kehilanganmu, yang paling aku sayangkan hanyalah kentutmu yang tak akan kudengar lagi. Kemana aku mencari kentutmu itu? Suatu saat pernah aku kentut dan aku merasakan kelembutan yang timbul seperti pertama aku mengenal kentutmu, namun semua berubah seketika saat muncul aroma ketiak tikus yang semerbak bersamaan kelembutan itu. Aku sedih dengan perasaan rindu menelisik  ingatanku. Bisakah kamu disana kirimkan kentutmu yang syahdu dan merona?

punggung

Rindu semakin memuncak, kesabaran pun rontok ditelan oleh pikiran tentang kamu dan kentutmu, harus kemana aku mencari pemuas dahaga akan kerinduan ini? Sudah kucari semua kentut didunia ini, tak ada yang seperti kentut kamu, sudah ku telusuri siang malam hanya untuk mencari nafas kentutmu. Yang kudapat hanya dedak bersama aroma racun mirip kabel yang terbakar lalu dijemur bersama jeroan kuda. Aku pasrah, aku lelah, walau kamu telah hilang, kuharap kentutmu tetap terbayang hingga aku bermimpi bertemu dengannya. Aku amat rindu kentutmu.

Iklan

Bayi Kambing Itu Bernama Oyek

gembala kambingObot hari ini riang, kenapa riang? Ternyata kambingnya yang hamil, pagi tadi melahirkan, dan alangkah senangnya si Obot tatkala mengetahui kambingnya melahirkan bayi kembar laki dan perempuan. Obotpun sudah dari jauh hari menyiapkan nama untuk sang bayi. Alzheimer, itu sebuah nama yang akan Obot berikan pada sang bayi. Nama tersebut ia berikan kepada sang bayi agar sesuai dengan nama ibunya, yaitu Almanak. Karena Obot tidak menyangka  kambingnya lahir kembar, jadi Obot hanya menyiapkan satu nama, maka akhirya Obot memikirkan sebuah nama lagi untuk bayi kambing yang satunya.

Obot dari siang hingga petang melamunkan tentang sebuah nama, karena ternyata dia masih belum menemukan nama yang cocok untuk bayi kambing lelakinya (diputuskan nama Alzheimer untuk bayi kembing perempuannya). Dipandanginya padang rumput didepannya, dengan ditemani kambing-kambing peliharaannya yang lain, membuat suasana sore hari tampak sendu dan syahdu. Sesekali Obot melontarkan candaan ke kambing-kambingnya, dan gelak tawa terdengar manja dari perut kambing-kambingnya yang buncit. Setelah lama dia melamun Obot akhirnya stres karena belum juga menemukan sebuah nama.

***

Obot berlari kencang, dengan nafas terengah, terasa sesak dengan perasaan yang amat sangat takut. Dengan melihat dia berlari membabi-buta tak jelas arah, dia tampak dikejar sesuatu. Obot pun bersembunyi dibelakang sebuah batu yang besar di tengah hutan, seraya dia mencoba mengatur nafasnya yang terlihat seperti akan habis. Teriakan hebat terdengar seisi hutan, dan teriakan tersebut ternyata teriakan kekagetan Obot saat ia melihat batu yang dipakai sebagai tempat bersembunyi nya itu berubah menjadi kambing raksasa bermata satu. Teriakan obot semakin hebat tatkala si monster kambing mendekatinya dan mengajaknya bersalaman. Ternyata monster kambing itu namanya Oyek, teriaklah Obot sejadi-jadinya.

Obot membuka mata dengan perasaan kalut dan takut,  ternyata yang dialami Obot hanya sebatas mimpi, kosentrasinya untuk menemukan sebuah nama membuat ia mengantuk dan akhirnya tertidur. Tanpa sadar langit sudah menghitam, dan kambing-kambing peliharaan yang menemaninya tadi sudah kembali pulang kerumahnya masing-masing.

Obot berjalan dengan gontai menuju rumahnya, dengan pikiran yang masih bingung karena mimpi yang dialaminya, ia mengingat-ngingat kembali peristiwa yang terjadi di alam mimpinya. Raut muka Obot perlahan-lahan tampak Sumringah, Obot menemukan apa yang ia inginkan dalam mimpinya itu. Dia bergegas menuju rumahnya dengan girang sambil menyebut nama Oyek, sesekali diapun berteriak.

Namun Obot kelihatan gusar sesampainya di rumah, dia gusar karena lelah mencari Almanak, Alzheimer, dan sang bayi kambing laki yang akan ia namai Oyek. Dia mencari-cari dikandang sebelah rumah, di rumah tetangga, dan di semua ruangan di dalam rumahnya, namun hasilnya nihil. Obotpun bertanya kepada Ibunya perihal keberadaan Almanak dan anak kembarnya.gembala kambing

Kaget si Obot mendengar ungkapan dan pemaparan ibunya, ibunya Obot menjelaskan bahwa si Almanak telah dijual kepasar hewan oleh suaminya yang tak lain Bapaknya Obot, dan dia pun menceritakan bahwa tadi siang ada rombongan remaja kota yang piknik liburan kekampungnya, dan para remaja kota itu lewat kedepan rumahnya Obot ketika mereka mau pulang, salah seorang remaja kota tak sengaja melihat kandang si Almanak. Remaja kota tersebut lantas senang dan gemas saat  melihat bayi kambing yang kembar, anak si Almanak. Dan pada akhirnya remaja kota tersebut menemui ibunya Obot dengan maksud ingin membeli bayi kembar tersebut. Dengan senang hati Ibunya Obot menjual anak kambing itu. Dan dengan tersenyum sumringah dan gembira ibunya Obot menjelaskan hal itu kepada Obot.

Obotpun pusing, serasa dunia akan meledak. Berjalanlah Obot kekamarnya dengan tersedu sedan. Berbaringlah dia diranjang kesayangannya, tidak sampai satu menit akhirnya Obot memutuskan untuk pingsan sambil berucap Oooyeek.

Tulisan Hitam, Saksi Kematian Tanpa Kehendak Tuhan

senjaDi bangunan tinggi bekas gedung perkantoran,yang  terbengkalai karena efek dari krisis ekonomi, dari perpecahan etnis, dari konflik beratasnamakan agama, dan dari perang atas nama kemerdekaan dan kebebasan. Tak tampak lagi warna cat pada dinding yang hampir semua retak, tak utuh lagi tembok yang menjadi sekat, retak hampir di seluruh dinding bangunan yang terabaikan. Pagi ini yang mati seorang gelandangan tua pengumpul botol minuman, mati terkapar dalam kardus yang biasa digunakan sebagai selimut, mati terkena disentri, malaria, dan dehidrasi. Para penghuni gedung yang mayoritas, gelandangan, pengemis, dan bocah pengamen tak begitu kaget melihat kematian yang tampak didapan matanya, selain keadaan seperti itu memang terbiasa, ditambah mereka malah mendoakan agar si gelandang tua lekas segera mati, bukan mereka kejam, justru iba rasa hati mereka melihat si gelandang tua yang renta, tiap malam meraung kesakitan, dan kelaparan. Apa boleh buat mereka tak bisa bantu, mereka juga sama susahnya mencari kesejahteraan.

Tak ada Tuhan ditempat ini, itu kata mereka. Dengan rasa derita, sakit bercampur bau busuk tak cukup lagi buat mereka untuk percaya tentang harapan apalagi Tuhan. Sebenarnya ada tempat yang lebih baik, dari pada gedung ini, tentunya lebih baik disini ibarat kotoran manusia dibanding kotoran sapi. Sama-sama kotoran namun lebih baik. Dan tempat yang lebih baik tersebut lumayan jauh, jaraknya kira-kira 68 KM kearah tenggara dengan jalan yang penuh ranjau juga duri.  Dan mayoritas penghuni disana para preman, pelacur, dan para manusia berkepala kotoran. jadi kalo dipikirkan ya sama saja buruknya. Maka begitulah mengapa mereka para pengemis, gelandangan, dan pengamen cilik masih berdiam diri di gedung seram ini.

Ini seperti akhir dari namanya dunia, terasa bahwa kehidupan berakhir dengan cara ini, seperti tanpa campur tangan Tuhan, bukan bencana senyatanya, bukan karena bumi terbelah, bukan karena gunung berhamburan,bukan karena  lautan membuncah, bahkan bukan karena matahari yang pecah dengan planet-planetnya. Hidup berakhir ditangan manusia, manusia yang berulah, manusia yang mati karena manusia, manusia yang mati dengan sendirinya. Gedung tua yang terabai, menjadi salah satu saksi dimana manusia punah secara tragis dengan hitamnya siang, gelapnya cahaya, kematian mengakar diantara udara yang dihirup manusia.

pembangunan

 Ada gambaran indah yang masih tersisa. Diantara  geletak mayat, tampak wanita paruh baya memeluk seorang anak dengan kasih dihiasi darah, yang tercampur dari kedua tubuh tak bernyawa tersebut.

 

Antara Buku Hilang, Hujan, dan The Godfather

Hari menjelang sore, berencana mau pergi menjumpai kerabat, kandas disebabkan hujan yang amat besar, jalananpun hampir menyerupai sungai citarum. Ditemani suara hujan dan di ganggu oleh cipratan air yang turun membasahi buku di atas rak  (baru sadar kalo atap bocor), dengan gesit selincah tarzan  saya mengamankan buku dengan cara melempar-lemparkannya keatas kasur, “tadaaa” kamarpun acak-acakan penuh buku. Alhasil saya pun  membereskan dan menata kembali buku-buku korban bocor ke tempat yang aman. Saat beres-beres berlangsung, alangkah senangnya hati ini  karena menemukan sebuah buku yang saya kira selama ini hilang diculik orang.  Buku itu berjudul The Godfather  karya penulis hebat almarhum aki  (sunda yang artinya kakek) Mario Puzo, pasti anda semua tahu dong dengan si aki dan karyanya ini,  The godfather karya si aki kan sampe dibuat jadi sebuah trilogy movie yang super keren, malah film The Godfather 1, dan The Godfather 2 sampai sekarang masih di posisi 2 dan 3 di Top 250 IMDB (Internet Movie Database). Sungguh  film bagus peraih piala oscar dizamannya.

DVD, buku the godfather

Karena saya senang sudah menemukan  buku yang dikira hilang itu secara tidak sengaja, jadinya saya pengen nonton film legendaris karya aki Puzo tersebut (soalnya kalo baca bukunya lagi kelamaan). Masih ditengah suasana hujan yang mulai rintik-rintik, saya mulai mencari kaset DVD The Godfather yang kebetulan memang saya sudah punya. Tak berapa lama, kaset DVD yang dicaripun ditemukan didalam laci meja yang tak bertuan. Bersama Ujan yang belum reda,malah makin besar kembali ujannya, saya pun nonton film The Godfather dengan mesra ditemani buku yang masih berserakan (karena belum selesai dibereskan, keburu girang nemu buku yg ilang) juga hujan yang masih menangis tersedu-sedan.

the god father

Hampir tiga jam lebih menonton (usai dah filmnya), dan hampir tiga jam pula hujan belum reda. Anehnya padahal saya sudah beberapa kali menonton ini film, namun masih saja tak bosan dengan film yang disutradarai oleh Francis Ford Coppola ini,  apalagi akting menawan dari almarhum eyang Marlon Brando (Don Vito Corleone), dipadukan dengan akting total bapak Al Pacino (Michael Corleone) menambah greget dan keasyikan dalam menonton.

Bila ada diantara kalian yang belum pernah menonton, lebih baik anda menonton secepat-cepatnya. Suer ini film bagus. Dan saya akan coba buat resensi filmnya biar tambah penasaran bagi yang belum nonton.

The Godfather

THE GODFATHER

Film ini bisa dikatakan film serial drama kekerasan dan diadaptasi seutuhnya berdasarkan novel karangan Mario Puzo yang berjudul sama dengan judul filmnya. Digarap secara apik, penuh ketelitian, sungguh merupakan karya klasik. Epik yang menjadi contoh terbaik genre film gangster dan mafia. Penokohan karakter dalam Film ini sangat kuat , dengan pencahayaan, dan tata kostum dengan latar yang amat mendukung. Sebuah film nostalgia, yang mampu membangkitkan memori penonton tentang masa pertengahan dan akhir 1940-an dalam kehidupan bawah tanah Amerika.

Film ini berkisah tentang  sebuah keluarga mafia Corleone, dengan pengaruh dan kejayaannya. Tokoh fiktif keluarga mafia yang dikisahkan merajai Newyork  pada tahun 1940-an. Ritual-ritual dan kode kehormatan keluarga mafia (keluarga etnis italia/turunan itali)  ini sangat berbeda diantara masyarakat pada umumnya. Keluarga ini menerapkan sistem balas dendam, keadilan, hukum, dan kesetiaan diatas nilai-nilai lainnya (kehormatan dan martabat keluarga sangat amat dijunjung oleh anggota keluarga).

Suatu saat Don Vito Corleone (sang Godfather/pemimpin keluarga) ditembak di jalanan oleh musuhnya (keluarga mafia lain) anak lelakinya, Sonny, Fredo, dan anak kesayangannya Michael mengambil alih kepemimpinan. Peristiwa tertembaknya Don tak ayal memicu perang antar kelompok bawah tanah (para keluarga mafia itali) di Amerika. Sonny Corleone anak Don Vito yang emosinya meledak-ledak (temperamen tinggi) akhirnya tewas, membuat Michael (adik Sonny) naik kepuncak  kekuasaan menggantikan Don Vito yang pensiun.

Hampir semua pemain dalam garapan film ini tampil tanpa cela, plotnya dramatik, dan aransemen musik karya Nino Rota benar-benar tak terlupakan. Adegan-adegan kekerasan yang ditampilkan dalam film ini kadang-kadang mengejutkan dan tak biasa.

Judul :  The Godfather  Pemain : Marlon Brando (don Vito Corleone), Al Pacino (Michael Corleone), James Caan (Sonny Corleone), Jhon Cazale (Fredo Corleone), Robert Duval (Tom Hagen), Diane Keaton (kays Adam)   Sekenario : Mario Puzo dan Francis Ford Coppola  Sutradara : Francis Ford Coppola  Sinematografi: Gordon Willis   Musik: Nino rota  Produksi Gray Frederickson, albert s.Ruddy/Paramount Pictures  Panjang Film : 175 menit   Genre : crime,drama  Penghargaan : 10 nominasi Academy Award, termasuk Best Director; 3 nominsai untuk best supporting actor (James Caan, Robert Duvall, Al Pacino), Best Sound, Best original Score3  Academy Awards; Best Picture, Best Sound, Best original Score, Best Actor (Marlon Brando), Best Adapted Screenplay.

Nah sekarang film apa yang anda suka? (tulisan dah rampung, dan diluar masih saja hujan)

Sumpah Sakral dan Sumpah Serapah

sumpah pemudaBerbahagialah mereka para yang muda di tahun 1928 pada tanggal 28 Oktober khususnya yang berpartisipasi dalam kongsres Sumpah Pemuda di Waltervreden (sekarang Jakarta), semoga dalam kesejahteraan di alam sana. Semoga berbahagialah pula muda-mudi yang hari ini sedang nge-blog, juga sejahtera para muda-mudi yang sedang berjuang dengan kehidupannya, dengan pendidikannya, dengan karirnya, dengan kisah cintanya.
Pasti semua tahu dengan Sumpah pemuda,  sebuah sumpah yang menjadi  tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Sebuah ikrar cita-cita yang didasari semangat para benih bangsa sebagai  titik awal berdirinya negara Indonesia. Semua perwakilan pemuda berjuang dan berdiri bersama dalam sebuah kongres yang sejatinya mencerminkan sebuah persatuan, mengikis perbedaan, dan menanam rasa persaudaraan.
Kini di bulan oktober 2013, apakah masih ada refleksi dari perjuangan pemuda/I di tahun 1928?
Apakah di tahun sekarang para generasi muda masih berjuang bersama untuk kemajuan dan kemuliaan bangsa?
Semoga masih ada yang tersisa dari pengorbanan,dan dari keringat para peserta kongres 28 oktober 1928. Dimana sumpah yang begitu sakral berbuah menjadi keyakinan berbangsa dan bernegara ditengah penindasan dan raga yang terjajah.
Sumpah serapah yang mungkin kini kita dengar dari yang muda-mudi lontarkan, sumpah dari kehawatiran meraka secara individual, serapah dari sifat hedonis ditengah kemajuan jaman. Sumpah  karena kegetiran yang di sebabkan perilaku korup yang diajarkan para kaum tua yang dulunya pernah muda. Serapah karena melihat dunia keji dengan melihat perceraian orang tua yang tentunya juga pernah muda.