Bocah Langit dan Anak Alam

Panas mentereng, matahari yang kepanasan akibat tingkah polah manusia. Tidak peduli dinginnya sang waktu yang memang enggan memperhatikan sekitar jagat maupun Andromeda dan bima sakti.

anak langit, hasil kehidupan

anak langit, hasil kehidupan

Disebuah pulau, di sebuah Negara, disuatu provinsi, dan di suatu desa. Panasnya cuaca tak menjadi soal perkara, maupun pikiran. Masyarakat desa tak terpengaruh, malah terbiasa beraktifitas dengan panasnya cuaca, dan panasnya hati karena kekurangan uang. Bocah-bocah terlihat berkumpul di kaki bukit, semuanya duduk melingkar, terkecuali salah seorang bocah yang sedang berorasi tentang bahaya global warming, dikontaminasikan dengan sedikit pemahaman tentang politik liberal kekinian. Oh alangkah indahnya pemandangan hasil cercahan ilmu sang Tuhan pada makhluknya.

Secara bergantian para bocah cilik itu memaparkan wawasan dan kegelisahan yang dihadapi mereka. Sesekali ada bantahan, ada sanggahan dari bocah lainnya yang merasa pemaparan sang pembicara kurang relevan atau kurang sreg dihati. Diskusi ilmu, diskusi literasi, diskusi budaya ini rutin dilakukan para bocah dusun kecil. Para bocah yang tak mengenal sekolah formal namun mengetahui pendidikan. Para bocah yang mayoritas penggembala kambing dan bebek, yang mencari ilmu hanya karna pandai membaca, membaca kitab, membaca buku, membaca langit, dan membaca alam. Tak sia-sia beberapa waktu kebelakang, para dermawan Ilmu dari kota seberang mendirikan sekolah alam, membangun rumah buku, mendedikasikan waktunya untuk mengajari para bocah Ummi (buta huruf) agar menyayangi huruf, menelisik kata, bercinta dengan kalimat, dan berlarian bersama makna.

menceburkan diri kesungai

menceburkan diri kesungai

Apa yang dirasa sang bocah, bukan kesia-siaan. Dari menelakar ilmu, mencari apa yang harus dicari, menjawab pertanyaan-pertanyaan sang fajar, menelaah dalamnya hati, dalamnya ruang pikiran manusia.

Energisitas ini berbuah nanti, berbekal hari ini dengan segumpal pertanyaan dan harapan. Menjadikan kehidupan bukan ketakutan tetapi jawaban-jawaban keraguan. Keringat negri akan terbasuh oleh pencapaianmu para bocah langit dan anak alam.

Iklan

6 responses to “Bocah Langit dan Anak Alam

    • kalau fotonya itu didaerah gede bage, tapi sebenarnya gak ada hubungannya, sama tulisan, mungkin hubungannya dikit. hehe maksih ya kak laras dah mau berkunjung lagi 🙂

    • setuju mas, jangan kita meninggalkan tradisi hanya untk memnacri ilmu di era tekonolgi, biarkanlah itu berjalan beriringan… saling melengkapi.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s