Sebuah Refleksi : Caligula dan Tentang Kebahagiaan

Teringat dari beberapa dialog lakon Caligula karya Albert Camus, perbincangan antara Caligula dengan Caesonia.

 Caesonia : bahagia itu sifatnya baik, tidak merusak.

 Caligula : Kalau begitu, bahagia ada dua macam. Dan aku telah memilih bahagia yang membunuh. Karena dengan membunuh aku jadi bahagia. Ada masanya aku mengira telah mencapai puncak dari keperihan. Tapi tidak, orang bisa pergi lebih jauh lagi. Dibalik batas keperihan itu terbentang bahagia yang indah tapi tak hidup.

Kebahagiaan adalah perkara yang di perbincangkan antara Caligula, dan Caesonia. Dan Caligula berargumen tentang kebahagiaan, berpendapat bahwa artian bahagia itu subjektif, tergantung pada orang yang merasakannya. Dan caligula mengkategorikan ada dua macam kebahagiaan yakni kebahagiaan yang merusak  dan kebahagiaan menurut Caesonia, bahwa bahagia itu sifatnya baik, tidak merusak.

Saya tidak akan membahas tentang Caligula, ataupun Caesonia. Kebahagiaan yang menjadi tema dialog dari Caligula dan Caesonia lah, yang ingin saya bicarakan di tulisan sekarang ini.

Semua orang tahu arti bahagia , semua manusia pasti pernah merasakan bahagia. Saya yakin kamu-kamu sekalian pasti pernah berbahagia, walaupun mungkin ada yang intens kebahagaainya begitu langka dalam hidupnya. Sering saya mendengar keluh kesah dari orang-orang tentang kenapa kebahagiaan tak pernah hinggap dalam kehidupannya, padahal saya yakin, itu hanya ungkapan hiperbola, mungkin karna perasaan dan hati orang tersebut sedang tidak baik, atau  tidak menentu karena suatu keadaan. Segalau-galaunya hati seorang insan manusia disatu hari yang galau, jika direnungkan secara mendalam, pasti ada secercah cahaya bahagia, yang tampak di hari itu pada sang korban galau. Hanya saja terkadang kita tak menyadarinya saja, kebahagiaan sebenarnya sama dengan suatu nikmat yang diberikan Tuhan kepada makhluknya di setiap waktu.

Masalahnya periode kebahagiaan itu sendiri yang kadang oleh orang-orang disalah artikan. bahwa, mesti bahagia itu jangkauannya panjang, perasaan hati dalam menyelami kebahagiaan itu haruslah lama, mungkin berhari-hari atau sampai bermingu-minggu. Padahal kebahagiaan tidak melulu seperti itu. seperdetik hati merasa ketenangan, itu adalah bahagia. semenit jiwa tenang, itu adalah bahagia. lima detik pikiran nyaman, itu juga adalah bahagia. jadi kebahagiaan memiliki jangka pendek dan jangka panjang menurut penafsiran saya (hehe sepertinya mungkin bisa jadi).

Kebahagiaan itu ada yang merusak, dan kebahagiaan itu bersifat baik. Saya sependapat dengan pernyataan itu, sependapat dengan ucapan Caligula, (Albert Camus). Namun tidak setuju dengan tindakan membunuh hanya untuk merasakan bahagia. memang benar bahagia itu sifatnya baik, baik bagi yang merasakannya. Tapi belum tentu baik bagi orang lain disekitar yang merasakan kebahagiaan itu. Jadi dilihat pula, pola bagaimana cara seseorang dalam mendapatkan kebahagiaan. Apakah kebahagiaanya diraih karna proses interaksi personal, dengan hati dan kenyamanan pribadinya tanpa ada intervensi dari luar, atau  interaksi inter personal, dan melibatkan situasi-situasi luar dalam menggapai kebahagiaannya. Contoh, bahagia dengan proses interaksi personal tanpa intervensi dari luar, seperti orang yang kentut, dia bahagia karena bisa kentut dan perutnya jadi nyaman, interaksi tersebut terjalin antara dirinya dengan perut, pantat dan tarikan nafas. Itu tentu sangat baik dan bermanfaat bagi dirinya. Tapi itu juga bisa jadi merusak, kalau saja kentutnya di depan muka orang, dan baunya menyengat kemana-mana, bisa jadi orang yang kentut pun akan kena gampar karena kentutnya (merusak, karena merugikan orang lain, dan bisa merugikan diri sendiri). Kemudian contoh bahagia dari proses interaksi inter personal, dan melibatkan situasi luar, seperti ketika kita mengungkapkan cinta pada seseorang, dan seseorang menerima cinta kita. Proses kebahagiaan tersebut tercapai karna adanya jalinan hubungan dengan personal yang lain. Kebahagiaan ini tentu baik, namun bisa jadi merusak jikalau seseorang yang menerima cinta kita tersebut sudah menikah, tentunya pasti akan sangat merugikan semua pihak pada akhirnya. Jadi, ada bahagia yang baik dan bermanfaat untuk diri pribadi dan orang sekitar, dan ada kebahagiaan yang baik namun merugikan lingkungan.

Kebahagiaan itu sesuatu yang real dalam keabstrakannya, bisa dirasa namun tak bisa divisualkan. Dan kadang kebahagian itu bersifat esoterik, misterius, timbul secara tiba-tiba dan dapat lenyap seketika pula. Karena entitas kebahagiaan itu imanen dari sekelumit kecil  susunan rangkaian takdir.

Semoga kita terus berbahagia, bahagia tanpa merugikan orang lain.

bandung, 27 november 2012

Iklan

11 responses to “Sebuah Refleksi : Caligula dan Tentang Kebahagiaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s