Hasrat Birahi, bukan Birahi

jepretanku, pada pertunjukan ayam kampus, Karya Rachman Sabur

“pergi…!” itu kata terakhir yang aku ucapkan. dan aku mengucapkannya pada diriku sendiri, bukan pada orang lain, apalagi seperti kamu yang tidak saya kenal.

“pergi aku kini benar-benar ingin mengusir mu dari kehidupanku!”. kali ini aku berucap lagi ,dan itu juga untuk terakhir kalinya,dan kalo memungkinkan aku mengucapkan itu bukan buat kamu lagi, tapi itu kutujukan buat hatiku. hati yang terpenjara, hati yang didalamnya terdapat suatu hal yang abstrak, yang kata orang sering disebut perasaan, dan perasaan itu kini makin terjebak dalam rangkaian labirinku yang rumit.
“aku tak bisa pergi” ada suara rintihan yang menjawab usiranku, aku mencari-cari suara itu, darimana suara itu? apakah asalnya dari rumah tetangga, tapi sepertinya bukan, karena aku tak punya tetangga. kucari-cari asal suara itu, kutelisik semua yang ada disekitar, ku babad semua benda yang ada di khayalanku hanya untuk menemukan suara itu.
“dimana kau suara? keluar kamu, tunjukan wujudmu, atau kamu akan kuusir, layaknya nasib bawang putih yang diusir oleh bawang bombay!!!” aku berteriak kencang dangan penuh amarah dan kebingungan, aku begitu supaya sang suara yang tadi terdengar mengiang ditelinga, menampakan wujudnya, walaupun aku sendiri tak tahu apakah dia berwujud atau tidak. yang penting aku sudah usaha.
telingaku kembali merasakan ada getaran suara “ngeeeengeeeengeeeengggg” apakah itu?, aku terperanjat karna suaranya begitu aneh, aku cari mencari kembali dimana asal suara itu, aku terperanjat ternyata suara itu adalah suara dari sebuah truk yang ada di otakku. “Truk sialan” aku menghardik pada otakku sendiri kenapa bisa muncul suara truk yang aneh.
“aku disini, dan aku tak mau pergi, karna aku sulit untuk pergi” aku mendengar suara itu lagi dan itu suara yang kucari-cari, bukan suara truck , bukan suara kereta, bukan suara helikopter, bukan suara gajah, benar-benar suara itu adalah suara yang kucari.
“ku tak mau pergi” suara itu muncul lagi dan kurasakan bahwa aku semakin mendekati suara itu. semakin dekat kurasakan nafas dari suara itu. nafas terengah-engah, nafas penuh emosi ketidakinginan untuk bertindak. aku menemukan suara itu, akhirnya. aku pegang asal dari suara itu. ternyata benar suara itu bukan suara kamu, asal suara itu adalah hatiku, hatiku yang tidak menyerupai hati, hatiku yang tidak merah muda warnanya, hatiku yang berantakan karna terlalu banyak menyimpan perasaan, hatiku adalah gudang hasratku yang terpendam. dan benar-benar suara itu berasal dari hatiku.
“heh kau yang bersuara, kamu tak usah bersuara. pergi sana jauh-jauh dari hatiku ini. pulanglah! ketempat asal kamu berasal!” “aku sudah lelah dengan keberadaanmu disana, pergi sebelum kau rusak sendiri dirimu” aku membentakan suaraku ke suara yang ada di hatiku, aku menepuk-nepuk dadaku, agar suara yang ada dihatiku merasa kesakitan, dan bila dia merasakan sakit mudah-mudahan dia keluar dan pergi dari hatiku.
” aku tak bisa pergi dari sini. aku sendiri ingin keluar dari sini, tapi aku terjebak dengan dirimu sendiri”, “kau inginkan aku pergi, tapi kau sendiri tak pernah melepaskan aku” “akupun terjerat dengan penantianmu, dengan hasrat perasaanmu yang terus terpendam” “kau pengecut, pecundang..kau hanya bisa mengutuk dirimu sendiri tanpa pernah memikirkan aku yang kini terpenjara, terpenjara dalam sampah batinmu” “aku akan pergi, tapi kumohon kau yang hanya bisa mengeluarkan aku, relakanlah aku, lepaskanlah aku,aku tak mau karatan disini, aku tak mau menjadi kotoran hatimu disini”.
aku kaget, seperti mendengar petir memecahkan balon warna hijau. aku bingung, bingung suara yang berasal dari hatiku berbicara seperti itu. aku aneh, aneh dengan semua yang menimpa alam hatiku. aku marah, marah karna suara hatiku berbicara dengan nada berontak dan penuh kesombongan. aku sakit, sakit karna aku sadar, bahwa sadar semua yang dikatakan suara yang berasal dalam hatiku itu benar, sadar bahwa dia yang benar dan aku yang memaksakan, sadar bahwa aku yang semakin sadar bahwa aku yang tak pernah sadar, sadar bahwa perasaan yang ada ingin meninggalkanku, sementara aku yang menahannya. dari semua kesadaran itu aku sakit. aku sakit dan sepertinya aku akan disuntik kebencian, aku akan diopname oleh semua perenungan, aku koma dalam kegetiran.
selesai koma aku mengambil pisau bedah yang ada di meja operasi, aku merobek baju pasienku, aku robek kulit dadaku, aku tusukan lebih dalam lagi, aku buang itu pisau, aku masukan tanganku kedalam dadaku, tanganku kubiarkan mencari-cari sesuatu yang memang sedang dicari tanganku. tanganku menemukan sesuatu itu, hangat, berdenyut. kemudian ku kukeluarkan dari dalam dadaku, kulihat sesuatu itu, dan ternyata itu hatiku……………… MATI deh aku.
Iklan

One response to “Hasrat Birahi, bukan Birahi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s