Kalo Malam Namanya Bukan Siang

 Betapa senangnya bumi berotasi mengelilingi matahari, oleh karena bumi itu bulat (bundar) jadi setiap wilayah yang ada didunia harus bergantian   merasakan matahari. Membeli tiket pertandingan Sepak bola pun harus ngantri (apalagi jika yang mainnya timnas) begitupun dengan semua wilayah didunia ini, mereka pun harus ngantri untuk mendapatkan cahaya matahari (bedanya kalo ngantri disini tidak rusuh kayak ngantri bagi-bagi beras).  Oleh karena proses semesta tersebut lahirlah perhitungan tentang waktu dan penamaan waktu. Adanya perhitungan waktu dimulai dari jam 1 dini hari sampai jam  24 malam. Ada juga penamaan tentang waktu yakni Fajar  ,pagi, siang, sore, lalu malam. Penamaan tersebut dilihat dari posisi matahari. Intinya dari adanya perputaran bumi terhadap matahari ini akibatnya ada waktu siang dan malam. Jadi Tuhan menciptakan siang dan malam karena adanya proses semesta itu.

Umumnya masyarakat di seluruh dunia menjalani rutinitas secara aktif di siang hari, dan malam hari dijadikan sebagai waktu untuk mereka beristirahat dengan memejamkan mata, sama halnya rutinitas itu berlaku di negeri kita  Indonesia. Menurut pemikiranku kenapa hal itu terjadi, mungkin siang hari enak dipakai untuk beraktifitas soalnya terang, dimana-mana terang , jalan terang itu kelihatan dari arah mata yang paling dekat sampai ujung penglihatan mata (jadi bisa ngebedain yang mana jalan yang mana kuburan), gedung-gedung kelihatan bahkan sampai detilnya hingga cat yang terkelupaspun kelihatan, liat uang yang tergeletak di pinggir got pun keliatan jelas kalo siang hari, jika ada cewek yang pake rok sedikit transparan pun keliatan jelas isinya kalo siang hari. Itulah mengapa beraktifitas enakan di siang hari. Coba bandingkan dengan malam hari, gelap sangat gelap kalo gak ada lampu. Dijalanpun yang banyak lampunya tetep aja remang-remang kalau lampunya bohlam yang  5 watt (pokoknya kalo terang pun gak seterang siang,apalagi masih ada daerah di kita yang belum ada listrik),  karna imaje malam yang gelap maka identiknya dengan serem, dan sepi. Kalo pun rame itu juga  ada di tempat dugem sama orang yang ngadain pesta malam. Selain itu ramenya sama kejahatan, sama ramenya arisan yang diadain ibu-ibu pocong ama kuntilanak (serem kan?). makanya manusia kalo malam lebih baik beristirahat daripada harus beraktifitas.

Walaupun  malam hari dianggap tidak nyaman untuk beraktifitas. Sejalan dengan perkembangan jaman, sekarang ini lumayan banyak orang yang hidup di malam hari. Apalagi seiring majunya teknologi media informatika, wah makin banyak orang yang melek di malam hari. Baik itu melek karena aktifitas kerjanya, melek karena nyari hiburan, melek karena pacaran, melek karena berkesenian, melek karena tugas sekolahan, melek karena nyari bahan tulisan, melek karena makan kebanyakan , dan yang paling parah melek karena nguber-nguber setan. Tapi rutinitas malam hari seperti itu kebanyakan di kota-kota gede, dikota-kota kecil masih jarang yang namanya malam dijadikan waktu untuk beraktifitas selain bobo (tapi kayaknya gak berlaku kalo kota kecilnya banyak warnet atau warung game online yang 24 jam. Nah loh).

lihat pula reklame hati dalam kotemplasi perasaan

Iklan

3 responses to “Kalo Malam Namanya Bukan Siang

  1. Iya, kalo lagi mudik ke jawa, paling banter melek sampe jam 9, soalnya jam 8 udah kyk kuburan jalan di dpn rmh. tp kalo lgi di jakarta,.. wehhhh jam 10 aja baru selesai nemenin mas futsal trus baru nyari makan 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s