Gitar adalah Gitarosikin

Gitar panggilanku, nama lengkapku gitarosikin. Aku terlahir menjadi lelaki yang keren, kenapa aku keren? Karena aku lahir saat ibuku sedang bersin juga mencret, jarang seorang bayi terlahir saat ibunya tak sengaja lagi bersin. Keren pula seorang bayi terlahir ditemani mencretnya sang ibu. Kekerenan aku makin edan tatkala berumur tujuh tahun, aku gemar membaca, mambaca segala tulisan. Dari Capingnya Gunawan Muhammad, bukunya Karen amstrong, Puisinya Edgar A Poe, sampai mambaca tulisan dokter gigipun aku gemar.

Waktu itu aku duduk dikelas 3 SD (Sekolah Darurat) bertepatan dengan terjadinya serangan udara oleh jepang ke pasukan Amerika di Pearl Harbour. Di lapangan Takada Kecamatan Brosot aku lagi maen karet gelang sama Mark Zukergerebeg teman sekelas dikelas 2 TK (Taman Kecelakaan). Sangat hebat si Mark Zukergerebeg ini dia bisa membuat karet gelang berasap dan bau hangit kalo dibakar pake korek. Mungkin Karena si Mark ini anak Gang Jelekong yang hobya nonton Wayang. Namun yang aku ingin ceritakan bukan hal mengenai si Mark hebat karna bisa ngebakar karet, melainkan ingin bercerita tentang pengalaman unik saat aku pulang  menuju rumah sehabis maen karet. Gini ceritanya saat itu aku jalan menuju rumah jaraknya lumayan deket kalo diitung-itung kayak bulak-balik Garut-bandunglah. Kebetulan hari itu gak ada Angkot soalnya emang taksi waktu itu belum diciptakan sama Wright Brother, jadinya aku jalan. Sepanjang jalan aku bersenandung dengan siulanku, terkadang melantunkan nyanyian kecil dari lagunya Jony Chas, atau Rhoma Irama.

Cuaca cerah bercampur mendung. Suasana sekitar sepi walau banyak tukang ojek. Saat aku sampai di pertigaan malioboro terdengar suara yang memangilku. “gitar…gitarr…woy gitarrr”. Aku terhenti dari langkahku mencoba mencari tahu itu suara apa. Jika ditelaah suara itu suara orang, bergaya feudal dengan system pemerintahan Kapitalisme. Suara itu datang lagi, agak jelas suaranya dari sebelah barat “gitaar… ini aku gitarr…”. Suaranya treble agak tua dan serak-serak gelas kaca aku pun membalas suara itu dengan teriakan berkata. “iya ini saya gitar..! kamu dukun ya?” itu kata sahutan dari aku. Kemudian suara itu datang lagi. “bukan aku bukan dukun..!” akupun membalas suara itu dengan teriakan sambil berkata “oh, jadi bukan dukun, saya kira dukun.” Setelah beberapa menit heninglah suasana. Tak ada suara suara lagi yang muncul. Akupun melanjutkan perjalanan hingga kesasar sampai di Pondok indah Mall. Itulah cerita pengalaman aku sang gitar yang masih menjadi baying-bayang dalam hidupku. Sampai saat ini aku masih terdampar di Pondok Indah Mall sambil kerja minta-minta duit sama orang-orang.

Lihat pula Kereta Matahari

Iklan

4 responses to “Gitar adalah Gitarosikin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s