Sebuah Refleksi : Caligula dan Tentang Kebahagiaan

Teringat dari beberapa dialog lakon Caligula karya Albert Camus, perbincangan antara Caligula dengan Caesonia.

 Caesonia : bahagia itu sifatnya baik, tidak merusak.

 Caligula : Kalau begitu, bahagia ada dua macam. Dan aku telah memilih bahagia yang membunuh. Karena dengan membunuh aku jadi bahagia. Ada masanya aku mengira telah mencapai puncak dari keperihan. Tapi tidak, orang bisa pergi lebih jauh lagi. Dibalik batas keperihan itu terbentang bahagia yang indah tapi tak hidup.

Kebahagiaan adalah perkara yang di perbincangkan antara Caligula, dan Caesonia. Dan Caligula berargumen tentang kebahagiaan, berpendapat bahwa artian bahagia itu subjektif, tergantung pada orang yang merasakannya. Dan caligula mengkategorikan ada dua macam kebahagiaan yakni kebahagiaan yang merusak  dan kebahagiaan menurut Caesonia, bahwa bahagia itu sifatnya baik, tidak merusak. Baca lebih lanjut

Iklan

Sebuah Refleksi: Dari Takdir Hingga Menuju Apatis

 pertunjukan Spleen Theatre, Jerman 2011

Dari aku manusia yang mempunyai takdir, dan kini mencoba untuk berbicara tentang takdir. Ketentuan yang sudah mutlak dan akan terjadi. Tak bisa dilawan dan dibantah dengan kekuatan super apapun. Namun kita tak mampu untuk menebak takdir apa yang akan menimpa kita di kemudian hari, di bulan yang akan datang, di minggu yang akan datang bahkan sampai didetik yang akan datang. Semua menjadi rahasia. Dan tuhanlah satu-satunya pemilik takdir yang mengetahui.

Kenapa aku mengulas pembahasaan tulisan ini dengan masalah takdir, entahlah aku sendiri tak tahu. Mungkin karena keadaan ku yang terus gelisah dengan situasi yang terjadi. Dengan hati yang semakin sepi dan hipokrit dalam suasana yang ada. Dari kegalauan ini , dari kesepian hati yang terus larut, hingga membuahkan sebuah perenungan tentang irama kehidupan yang mutlak akan terjadi pada makhluk Tuhan. Baca lebih lanjut

Akupun Ingin Pulang

aku, dan sang aku

Jeritan dalam jiwa, aku ingin pulang (Ebieth G Ade)

Setelah sekian lama merantau di negeri  orang, terbersit rindu akan kampung halaman, rindu keluarga tersayang, tentang romantisme masa lalu,. Bagi mereka yang mencari nasib, semisal mencari pekerjaan, mencari ilmu, mencari petualangan, bahkan mencari jodohpun mungkin ada.

Aku ingin pulang teriak hati seorang napi yang terbiasa dengan keahlian mencopet itu, telah lima tahun dia dirantau, telah dua belas kali dia masuk bilik jeruji besi, lantas kini dia rindu akan pulang, bukan pulang ke tanah halamannya atau kampung sanak saudaranya. Dia ingin pulang pada kebebasannya , pada kemerdekaan diri.

”Aku ingin pulang” rintih seorang istri, ucapan pahit yang terlontar kepada sang suami, dengan isak tangis yang terdengar bersamaan teriakan batin. Setelah tiga tahun meninggalkan orang tua, karna tak direstui cintanya. Baca lebih lanjut

dire-blog dari kak ndue

Call Me - Ndue

Selamat siang teman-teman dimana saja. Adik kita ini bernama #Balya, usianya 12 tahun.

Kali ini saya ingin mengetuk hati teman-teman sekalian untuk bergandengan tangan membantu adik kita #Balya yang sedang melawan penyakitnya, yaitu Leuikimia (Kanker Darah) yang ada di Semarang – Jawa Tengah.

Siapa itu #Balya? Saya akan menjelaskan siapa adik kita, dan kenapa kita harus membantu memberikan semangat juga sedikit donasi untuk membantu meringankan sakitnya adik kita tersebut.

Nama lengkapnya Muhammad Balya Alfain berusia 12 tahun, yang saat ini masih sekolah dan berada di kelas VII SMP 1 Margoyoso Pati, Jawa Tengah. Saya mengenalnya dari salah satu komunitas Rumah Orange – www.ngerumpi.com. Dia adalah adik dari Mbak Miftahun Nikmah.

Dan untuk kronologis kejadian adik #Balya di vonis Leukimia adalah seperti yang saya kutip dari tulisan Mbak Thatha.

“Senin, 22 Oktober 2012, sepulang sekolah, Balya yang kelas VII SMP 1 Margoyoso Pati, Jawa Tengah, melepas kaus kaki. Saat itu…

Lihat pos aslinya 1.126 kata lagi

Episodik Latar Yang Berbeda

pembangunan

“kenalilah dirimu sendiri, sungguh kenalilah dirimu dan aku harus mengenal diriku sendiri dan merasuk kedalam relung kalbuku, dengan demikian aku dapat membuang kebimbangan dan kekhawatiranku. Tugasku yang terpenting ialah memperlihatkan cita idamanku kepada sifat kodratku, dan selanjutnya memperlihatkan sifat eksistensi darah dan dagingku sampai kepada esensi jati diriku.” (Socrates)

 

Bergerak bersama bayangan, mencari penerangan mencari petuaangan.

Berbahan pakaian kemeja lusuh dengan bawahan jeans yang kumal, pemuda itu tidur dengan pulas beralaskan kardus, disebuah emperan toko dia tertidur. Tidak berselimutkan apa-apa, hanya berselimutkan malam yang dingin. Sepertinya pemuda itu habis mabuk berat, dia tentu punya tempat tinggal,punya tempat tidur, tempat dimana ia pulas terlelap setiap malam. Kiranya pengaruh alkohol penyebab dia tertidur di emperan malam ini. Baca lebih lanjut