Aku bukan Pelacur Barumu (Makan Saja Pria Itu)

bulat adalah nama, sebuah nama seorang pria yang telah berulangkali mempermainkan perasaanku. berulangkali memperkosaku dengan buaiannya, berulangkali menikahiku, berulangkali pula menceraikanku. berulangkali membunuhku, berulangkali pula menghidupiku.

suatu hari di waktu yang tak tepat (karna buruknya suasana hatiku kala itu menjadikan waktu yang tepat menjadi tak tepat) bulat datang ketempatku, kerumahku, atau dapat dikatakan kontrakanku. bulat datang sambil mabuk, bukan mabuk laut atau mabuk janda, tapi mabuk minuman. dia benar-benar mabuk, sangat mabuk, sampai-sampai dia tak sempat menyapaku ketika dia datang, aku juga tak sempat menyapanya. malahan bukan sapaan yang didapat tapi tamparan yang kurasa. bukan tamparan fisik, bukan tamparan tangannya mengenai wajahku atau bdanku yang lainnya. tapi melainkan tamparan batin yang tidak terlalu sakit, karna sudah biasa aku tersakiti. dan mungkin jadi sebuah makanan pokok bagiku. kala itu bulat dengan terang-terangan membawa seseorang, mungkin itu kekasih gelapnya, atau mungkin itu pasangan yang baru dicintainya. aku tak berani menerka-nerka lagi, aku tak mau berprasangka buruk kalo saja perlakuan bulat ke seseorang itu biasa saja layaknya teman. tapi perlakuannya ini jauh dari perlakuan seorang teman ke temannya, dengan mesranya didepanku dia mencium orang yang dibawanya dengan penuh cinta, penuh emosi yang berlebih. aku tak tahan, kali ini aku benar-benar jijik, benar-benar marah. aku tak percaya akan hal ini, aku tak percaya bahwa hari ini akan benar-benar menjadi titik kehancuranku.

bulat biadab tengik, lelaki laknat, pria berotak busuk. kini aku hancur, aku lebih dari tersakiti walau sebenarnya aku memang biasa tersakiti. aku memang telah rusak, rusak tubuh, rusak jiwa, tapi skarang aku lebih rusak menjadi potongan-potongan daging yang membusuk dan bersatu bersama kotoran anjing. sepanjang hubunganku dengan bulat aku memang sering di khianati, di jadikan simpanan, dijadikan permainan olehnya, aku juga tahu bahwa dia beristri, memiliki pasangan dengan ikatan akad nikah. untuk hal itu memang aku yang jahat, aku yang bodoh karena tertipu oleh semua buaian lelaki kadal itu. tapi disana aku luluh karna aku sudah punya ikatan rasa sama lelaki bejad itu. tapi kali ini setelah kejadian itu, dia benar membuatku amat busuk, amat mengutuk pada kelakuannya itu.

aku kini menjerit-jerit, aku kini teriak-teriak, setelah mengalami pengalaman yang amat menyiksa. berhari-hari, bermingu-minggu, hingga berbulan-bulan aku tak bisa melupakan kejadian yang membuat over traumatik pada hidupku, aku tak bisa lupa, aku tak akan lupa. bulat, ia bulat si anjing tengik yang buat aku menderita. aku terima perselingkuhanmu, aku terima aku sebagai selingkuhanmu, aku terima aku sebagai pelacurmu, aku terima sebagai pelaimpasan birahimu, tapi ini yang ku sesalkan aku tak dapat menerima dirimu yang berselingkuh dengan pria itu. aku tak mau dengan bekas pria, aku tak mau tidur dengan pria yang pernah tidur pula dengan pria. bulat aku bukan pelacur barumu, dan aku juga kini bukan pelacurmu, bukan…. siapa-siapamu……..!

Iklan

5 responses to “Aku bukan Pelacur Barumu (Makan Saja Pria Itu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s